π§ππ¨πππ πππππ ππ¬ππ
π¨ππ ππππ ππππ π¨ππ π πππππππ ππππππππππππ ππππππ πππππππππ? π¨πππππ πππππππππππππ πππππππ ππππππ πππππππ πππ πππππππππ ππππππππππππ π πππ πππ ππππ πππππ? π«ππ ππ π ππππ πππππ ππππππ πππππππ ππππππ πππ πππππ?
Jawaban
Segala puji bagi Allah.
Tauhid hakimiyah tidak boleh diingkari, karena ia termasuk salah satu jenis tauhid. Namun, tauhid ini masuk ke dalam tauhid uluhiyah dalam kaitannya dengan hakim itu sendiri sebagai pribadi. Sedangkan dalam hal lain, tauhid hakimiyah ini berkaitan dengan makna tauhid rububiyah, karena hakim yang sebenarnya adalah Allah Ta’ala.
Jadi, haruslah Tuhan yang mengatur, yaitu Dia yang memiliki hukum dan keputusan. Oleh karena itu, tauhid hakimiyah masuk dalam tauhid rububiyah dari sisi hukum, perintah, larangan, dan pengaturan. Sedangkan dari sisi penerapan dan amal, seorang hamba wajib mengikuti hukum Allah, sehingga dari sisi ini ia masuk ke dalam tauhid uluhiyah.
Adapun menjadikannya sebagai bagian keempat, hal ini tidak memiliki alasan yang kuat, karena ia sudah termasuk dalam tiga bagian tauhid. Pembagian tanpa kebutuhan yang mendesak hanya menambah kata-kata yang tidak perlu. Namun, bagaimanapun juga, masalah ini mudah saja. Jika dijadikan bagian tersendiri, ia hanyalah sinonim, dan tidak ada masalah di dalamnya.
https://islamqa.info/ar/answers/11745/%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82%D8%A9-%D8%AA%D9%88%D8%AD%D9%8A%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85%D9%8A%D8%A9#:~:text=%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%88%D8%A7%D8%A8,%D9%84%D8%A3%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%83%D9%85%20%D9%87%D9%88%20%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%20%D8%AA%D8%B9%D8%A7%D9%84%D9%89%20.
.jpeg)
.jpeg)
Comments
Post a Comment