SUFI GHULAT
Sufi Ghulat (صوفي غلاة)
adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok dalam tasawuf
yang dianggap telah berlebihan (ghuluw) dalam ajaran atau praktik-praktik
spiritual mereka. Istilah "ghuluw" dalam Islam merujuk pada tindakan
berlebihan yang melampaui batas ajaran yang benar, baik dalam hal ibadah,
keyakinan, atau praktik. Dalam konteks Sufi Ghulat, mereka dianggap melampaui
batas-batas yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah serta menyimpang dari
ajaran tasawuf yang moderat dan sesuai dengan syariat.
Pokok-Pokok Ajaran
Sufi Ghulat
1. Wahdatul Wujud yang Berlebihan (وحدة الوجود المفرطة):
Salah satu ciri
utama Sufi Ghulat adalah penghayatan yang ekstrem terhadap konsep Wahdatul
Wujud (kesatuan wujud), yang dalam bentuknya yang ekstrim berarti bahwa tidak
ada perbedaan hakiki antara Tuhan dan ciptaan. Mereka percaya bahwa segala
sesuatu yang ada adalah manifestasi dari Allah, dan sering kali menganggap diri
mereka telah menyatu atau menyamakan diri mereka dengan Tuhan.
- Dalil yang
digunakan:
Ayat yang sering
dijadikan dalil oleh kaum Ghulat ini adalah:
«هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ
وَالْبَاطِنُ»
_"Dia-lah
Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin."_ (QS. Al-Hadid:
3)
Namun,
interpretasi mereka sering kali melampaui batas-batas syariat dan tafsir yang
benar.
2. Fana’ dan Ittihad (الفناء والاتحاد):
Mereka mempercayai
konsep fana’ (lenyapnya ego) hingga pada tingkat di mana mereka meyakini telah
mencapai ittihad (persatuan) dengan Tuhan. Dalam ajaran tasawuf yang moderat, fana’
berarti penghancuran ego atau nafsu demi mendekatkan diri kepada Allah, tetapi
kelompok Ghulat sering mengartikan fana’ sebagai lenyapnya semua entitas yang
berbeda dengan Allah, bahkan mereka mengklaim menyatu dengan-Nya secara hakiki.
3. Ta’til (تعطيل - Pengabaian Sifat
Allah):
Sebagian kelompok
Sufi Ghulat mengabaikan sifat-sifat Allah yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan
Sunnah. Mereka berpandangan bahwa Allah tidak memiliki sifat yang dapat
dipahami oleh manusia dan menolak sifat-sifat Allah yang disepakati oleh Ahlus
Sunnah wal Jamaah seperti sifat al-hayah (hidup), al-‘ilm (mengetahui),
al-qudrah (berkuasa), dan lain-lain. Mereka menganggap semua sifat Allah hanya
sebagai simbol dan bukan realitas.
4. Syirik Khafi (الشرك الخفي):
Beberapa kelompok
Ghulat sering jatuh dalam praktik yang dianggap syirik khafi (kemusyrikan
tersembunyi), yaitu menyekutukan Allah dengan cara yang tidak langsung. Mereka
bisa saja terlalu mengagungkan wali atau mursyid (guru spiritual) mereka hingga
pada tingkat yang menyerupai penyembahan atau pengultusan, yang jelas melanggar
prinsip tauhid dalam Islam.
5. Keyakinan akan Kewalian yang Ekstrem (الاعتقاد في الولاية المتطرفة):
Kaum Ghulat percaya
bahwa wali-wali atau guru-guru spiritual mereka memiliki kekuatan-kekuatan
supranatural dan kemampuan khusus yang melebihi manusia biasa, seperti
mengetahui hal-hal ghaib, memiliki mukjizat yang terus-menerus, dan mereka
kadang mengklaim bahwa wali bisa memiliki peran setara dengan nabi dalam
memberikan petunjuk.
6. Mengabaikan Syariat (إهمال الشريعة):
Salah satu
penyimpangan yang dilakukan oleh Sufi Ghulat adalah mereka menganggap bahwa
setelah mencapai tingkat spiritual tertentu, seseorang tidak lagi terikat
dengan aturan-aturan syariat seperti shalat, puasa, dan zakat. Mereka meyakini
bahwa kewajiban syariat hanya berlaku bagi mereka yang belum mencapai tingkat
spiritual tinggi. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan
bahwa syariat dan hakikat (spiritualitas) harus berjalan seiring.
7. Praktik Bid’ah (بدع):
Mereka sering kali
melakukan praktik-praktik baru yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur'an atau
Hadis, seperti tarian berputar-putar (seperti pada beberapa kelompok Sufi
tertentu), nyanyian khusus yang diiringi musik sebagai bagian dari ibadah, dan
bentuk-bentuk dzikir yang tidak dikenal dalam tradisi Islam yang sahih.
Tokoh-Tokoh Sufi
Ghulat
1. Al-Hallaj (الحسين بن منصور
الحلاج):
Al-Hallaj adalah
salah satu tokoh sufi yang dianggap sebagai bagian dari kelompok Ghulat karena
pandangannya tentang ittihad (penyatuan dengan Tuhan). Ia terkenal dengan
ucapannya "Ana al-Haqq" (Aku adalah Kebenaran) yang menyebabkan ia
dihukum mati oleh otoritas Islam pada masa itu karena dianggap menyimpang.
2. Ibn Sab'in (ابن سبعين):
Seorang sufi yang
dikenal dengan pandangannya yang ekstrem tentang wahdatul wujud dan ittihad. Ia
menyatakan bahwa seluruh wujud adalah satu dengan Tuhan secara hakiki, yang
bertentangan dengan ajaran tauhid yang murni.
3. Bayan ibn Sam'an (بيان بن سمعان):
Seorang tokoh yang
sering dikaitkan dengan gerakan ghulat pada masa awal Islam. Ia adalah seorang
tokoh ekstremis yang menggabungkan ajaran-ajaran mistik dengan
keyakinan-keyakinan yang dianggap menyimpang dari Islam.
Kitab Rujukan dalam
Bahasa Arab
1. "Al-Futuhat Al-Makkiyah" karya Ibn Arabi (الفتوحات المكية لابن عربي):
Meski Ibn Arabi
adalah seorang sufi besar, beberapa ajarannya dianggap kontroversial dan
menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok sufi Ghulat, terutama terkait konsep wahdatul
wujud yang dalam interpretasi ekstremnya diambil oleh kaum Ghulat.
2. "Al-Tawasin" karya Al-Hallaj (الطواسين للحلاج):
Kitab ini memuat
ajaran-ajaran Al-Hallaj yang mengandung konsep ittihad dan keyakinan bahwa
manusia bisa mencapai persatuan dengan Tuhan. Ajarannya inilah yang menyebabkan
ia dihukum mati.
3. "Shathahat" karya Al-Hallaj (شطحات الحلاج):
Kumpulan
ucapan-ucapan kontroversial Al-Hallaj yang sering kali dianggap menyimpang dari
ajaran Islam yang benar, seperti klaimnya "Ana al-Haqq" yang dianggap
sebagai bentuk ghuluw dalam tasawuf.
4. "Risalat al-Qushayri" karya Al-Qushayri (الرسالة القشيرية للقشيري):
Meski bukan kitab
Sufi Ghulat, Risalat al-Qushayri memuat kritik terhadap kelompok-kelompok
tasawuf yang menyimpang, termasuk kelompok Ghulat, sehingga bisa menjadi
referensi untuk memahami batas-batas tasawuf yang sahih.
Kesimpulan
Sufi Ghulat adalah kelompok-kelompok dalam tasawuf yang
dianggap menyimpang karena mengajarkan ajaran-ajaran yang melampaui batas,
seperti konsep wahdatul wujud yang berlebihan, ittihad (penyatuan dengan
Tuhan), pengabaian syariat, dan pengultusan terhadap wali. Tokoh-tokoh seperti
Al-Hallaj dan Ibn Sab'in sering dikaitkan dengan aliran ini. Ajaran mereka
dianggap menyimpang dari tauhid yang murni dan berpotensi mengarah kepada
syirik atau bid’ah. Kitab-kitab seperti Al-Futuhat Al-Makkiyah dan Al-Tawasin
sering dijadikan rujukan untuk memahami pandangan-pandangan mereka.
.jpeg)
Comments
Post a Comment