๐„๐Œ๐๐€๐“ ๐๐”๐‹๐”๐‡ ๐“๐€๐‡๐”๐ ๐’๐„๐๐„๐‹๐”๐Œ ๐Š๐„๐๐€๐๐ˆ๐€๐

Oleh: ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐Œ๐š๐ฅ๐ข๐ค ๐›๐ข๐ง ๐Œ๐ฎ๐ก๐š๐ฆ๐ฆ๐š๐ ๐›๐ข๐ง ๐’๐ก๐š๐ฅ๐ข๐ก ๐€๐ฅ-๐‰๐š๐ฌ๐ข๐ซ

๐‘ฏ๐’‚๐’Œ๐’Š๐’Ž ๐’…๐’Š ๐‘ท๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’…๐’Š๐’๐’‚๐’ ๐‘จ๐’…๐’Ž๐’Š๐’๐’Š๐’”๐’•๐’“๐’‚๐’•๐’Š๐’‡ ๐’…๐’Š ๐‘ฏ๐’‚๐’Š๐’-๐‘บ๐’‚๐’–๐’…๐’Š ๐‘จ๐’“๐’‚๐’ƒ๐’Š๐’‚

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang pemberi petunjuk, serta kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya semuanya.

Sirah (perjalanan hidup) yang mulia, kehidupan teladan terbaik umat manusia, adalah mata air yang tidak pernah kering, sumber yang jernih dan terus mengalir. Setiap orang yang mencari keselamatan dan kebahagiaan dapat meminum darinya. Ia adalah matahari yang bersinar terang, cahaya yang memancar, dan pelita yang menerangi kegelapan penyimpangan, serta menuntun jalan yang lurus.

Saya akan menulis tentang empat puluh tahun kehidupan Nabi yang mulia ๏ทบ sebelum pengangkatannya sebagai Rasul.

Empat puluh tahun yang penuh dengan kesucian dan kemurnian.
Empat puluh tahun di mana fitrah berbicara, sifat-sifat mulia terpancar, dan perlindungan ilahi terlihat jelas dalam persiapan Sang Pemimpin umat manusia.
Empat puluh tahun di mana Yang Agung dipersiapkan untuk urusan yang agung, sehingga empat puluh tahun itu menjadi awal perubahan bagi dunia yang tenggelam dalam kegelapan kekufuran dan kebodohan menuju cahaya tauhid dan ilmu.

Empat puluh tahun yang dipenuhi kegembiraan dan kesedihan, harapan dan penderitaan. {Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.} (QS. Al-Ahzab: 51)

Empat puluh tahun yang dimulai dengan:

(๐Ÿ)       ๐Š๐ž๐ฅ๐š๐ก๐ข๐ซ๐š๐ง ๐’๐ž๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐˜๐š๐ญ๐ข๐ฆ!!


Ayahnya meninggal sebelum kelahirannya, setelah berusaha mencari nafkah, dan takdir mempertemukannya di tanah Yatsrib, di mana ia dikuburkan di salah satu makamnya!!
Sang ayah dan suami telah dimakamkan, meninggalkan sang ibu yang penuh kasih menghadapi rasa sakit persalinan, duka kehilangan, dan kecemasan akan masa depan anak yang telah menjadi yatim bahkan sebelum ia lahir!!

Tibalah saatnya, dan dunia pun bersuka cita dengan:

(๐Ÿ) ๐Š๐ž๐ฅ๐š๐ก๐ข๐ซ๐š๐ง ๐Œ๐ฎ๐ก๐š๐ฆ๐ฆ๐š๐ ๏ทบ:

Nabi para utusan lahir di pemukiman Bani Hasyim pada pagi hari Senin, tanggal 9 Rabiul Awal, tahun pertama dari peristiwa Gajah, atau lima puluh tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi ๏ทบ, yang bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, seperti disebutkan oleh sebagian ahli sejarah.

Di tempat lain, jauh dari rumah kecil tempat lahirnya Sang Agung itu, berdirilah seorang lelaki memandang langit dan bintang-bintang. Sesuatu yang tidak biasa terjadi, tanda itu telah muncul!!
Maka lelaki itu berteriak kepada kaumnya: "Wahai sekalian orang Yahudi!!" Mereka pun berkumpul, dan ia berkata: "Bintang Ahmad telah terbit, ia lahir pada malam ini."

Ya, Ahmad telah lahir. Dan di sanalah ia berada dalam pelukan ibunya, menyusu, ditemani oleh Ummu Aiman dan Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab.

Hari-hari berlalu, dan bayi itu pun pergi ke:

(๐Ÿ‘) ๐ƒ๐š๐ž๐ซ๐š๐ก ๐๐š๐ง๐ข ๐’๐š'๐š๐:

Ia dibawa bersama ibu susunya, Halimah as-Sa'diyah, untuk disusui di perkampungan Bani Sa’ad bin Bakr, mengikuti kebiasaan bangsa Arab dalam mencari wanita-wanita penyusu untuk anak-anak mereka, agar tubuh mereka kuat dan mereka bisa mempelajari bahasa Arab sejak kecil.

Di perkampungan itulah, Muhammad kecil tumbuh. Di sana ia mulai berdiri dan berjalan. Di sana pula ia tertawa dan bermain dengan teman-teman kecilnya. Betapa polos dan indahnya pancaran mata anak suci itu!!

Shalawat dan salam dari Tuhanku tercurah kepadanya.

Di sana, ia menggembalakan kambing, mengikuti dan menuntunnya bersama saudara-saudaranya sesusuan.

Hari-hari berlalu bagi para penggembala kecil itu, hingga si kecil menginjak usia empat tahun. Suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan anak-anak lain, tiba-tiba ia jatuh dan pingsan di hadapan dua pria berpakaian putih. Segera seseorang berlari memanggil ibunya dengan penuh ketakutan: "Muhammad telah terbunuh!!!"
Namun sebenarnya itu adalah:

(๐Ÿ’) ๐๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ƒ๐š๐๐š:

Kedua malaikat itu membaringkan beliau, kemudian mengeluarkan segumpal darah hitam dan melemparkannya, sehingga bagian setan darinya telah lenyap. Mereka kemudian mencuci hati beliau dalam sebuah baskom emas dengan air Zamzam, lalu mengembalikan hati tersebut ke tempatnya. Nabi kecil pun kembali ke kaumnya dengan wajah pucat. Anas radhiyallahu anhu berkata: (Aku masih bisa melihat bekas jahitan di dadanya).

 

Ketika Halimah melihat hal itu, dia khawatir akan keselamatan anak kecil tersebut, sehingga dia memutuskan untuk:

 

(๐Ÿ“) ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐š๐›๐ข ๐ค๐ž ๐ˆ๐›๐ฎ ๐Š๐š๐ง๐๐ฎ๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐š:

Nabi kecil pun dikembalikan ke pelukan ibunya yang penuh kasih sayang. Beliau diasuh hingga mencapai usia enam tahun. Ketika itu, perasaan rindu Aminah kepada suaminya yang telah wafat dan kepada keluarga besarnya semakin memuncak, sehingga dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yatsrib. Setelah satu bulan di Yatsrib, tibalah waktu untuk pulang. Di tengah perjalanan antara Yatsrib dan Makkah, rombongan mereka berhenti di sebuah tempat yang akan dikenang oleh Rasulullah bahkan setelah menjadi nabi. Suatu hari, beliau melewati sebuah makam, lalu duduk di sampingnya. Orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya, dan beliau mulai menggerakkan kepala seolah berbicara, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Buraidah radhiyallahu anhu. Kemudian, beliau menangis dengan tangisan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Umar mendekatinya dan berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Ini adalah makam Aminah binti Wahb.”

 

Rombongan berhenti di tempat yang disebut Al-Abwa, di mana Nabi kecil kembali merasakan pahitnya yatim piatu. Aminah wafat dan dikuburkan di hadapan mata beliau, meninggalkan Nabi kecil dalam keadaan menangis, lalu beliau pun berpindah pengasuhan kepada:

 

(๐Ÿ”) ๐Š๐š๐ค๐ž๐ค๐ง๐ฒ๐š, ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐Œ๐ฎ๐ญ๐ก๐š๐ฅ๐ข๐›:

Anak kecil yang penuh duka kembali ke pengasuhan kakeknya yang sangat menyayangi beliau. Abdul Muthalib sangat memperhatikannya dan tidak pernah membiarkannya sendirian. Bahkan, Nabi kecil lebih diistimewakan daripada anak-anaknya yang lain. Abdul Muthalib memiliki alas duduk yang tidak ada seorang pun yang boleh mendudukinya kecuali beliau. Namun, Muhammad kecil adalah satu-satunya yang diperbolehkan duduk di situ. Ketika anak-anak Abdul Muthalib mencoba mengusirnya, kakeknya berkata, "Biarkan dia, demi Allah, anak ini akan memiliki kedudukan yang besar."

 

Hari-hari berlalu hingga Nabi kecil berusia delapan tahun, dan kali ini beliau kembali menghadapi cobaan berat ketika kakeknya Abdul Muthalib wafat. Wasiat terakhirnya adalah agar Nabi kecil diasuh oleh:

 

(๐Ÿ•) ๐๐š๐ฆ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š, ๐€๐›๐ฎ ๐“๐ก๐š๐ฅ๐ข๐›:

Abu Thalib pun mengasuh yatim piatu ini dengan penuh perhatian. Beliau menggabungkan Nabi dengan anak-anaknya dan mengutamakannya atas mereka. Abu Thalib menghormati dan menghargai beliau dengan sangat tinggi.

 

Hari-hari berlalu, dan tiba masa sulit di Makkah ketika terjadi kemarau panjang. Tanah menjadi tandus, dan kehidupan orang-orang sangat menderita. Saat itulah orang-orang Quraisy memohon kepada pemimpin mereka, Abu Thalib, untuk memohon hujan. Maka terjadi peristiwa:

 

(๐Ÿ–) ๐–๐š๐ฃ๐š๐ก ๐๐ฎ๐ญ๐ข๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ก๐จ๐ง ๐‡๐ฎ๐ฃ๐š๐ง:

Abu Thalib keluar untuk memohon hujan, sedangkan langit tidak menunjukkan tanda-tanda awan. Bersama beliau, ada Nabi kecil—shallallahu alaihi wa sallam—dan anak-anaknya. Abu Thalib mengambil Nabi kecil, mengingat kata-kata Abdul Muthalib: "Demi Allah, anak ini akan memiliki kedudukan besar!" Abu Thalib kemudian menyandarkan punggungnya pada Ka'bah dan memohon hujan. Awan datang dari segala arah dan hujan pun turun deras. Abu Thalib berkata: 

"Wajahnya yang putih memohonkan hujan, 

Pelindung anak yatim dan penjaga para janda."

 

Hari-hari berlalu hingga Nabi yang mulia berusia dua belas tahun. Dalam musim panas yang terik, rombongan Quraisy bergerak menuju Syam. Di sanalah terjadi peristiwa:

 

(๐Ÿ—) ๐๐ฎ๐ก๐š��R๐š ๐’๐š๐ง๐  ๐‘๐š๐ก๐ข๐›:

Abu Thalib melakukan perjalanan bersama kaumnya, dan Nabi—shallallahu alaihi wa sallam—ikut serta. Ketika mereka tiba di kota Busra, kaum itu beristirahat, dan Buhaira keluar menemui mereka, meskipun biasanya ia tidak pernah keluar menemui para pedagang. Dia berjalan di antara mereka hingga menemukan Nabi kecil dan memegang tangannya sambil berkata, "Inilah pemimpin seluruh dunia! Inilah utusan Tuhan semesta alam! Tuhan akan mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam!" Abu Thalib dan para tetua Quraisy bertanya, "Bagaimana kau mengetahui hal ini?" Buhaira menjawab, "Ketika kalian mendekati tempat ini, tidak ada satu batu atau pohon pun yang tidak sujud padanya, dan hanya seorang nabi yang disujudi oleh benda-benda ini. Aku juga mengenalnya dari tanda kenabian di bawah tulang bahunya yang menyerupai apel, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab kami."

 

Dia pun meminta Abu Thalib untuk tidak membawa Nabi ke Syam karena khawatir terhadap ancaman Romawi dan Yahudi. Maka Abu Thalib mengirim Nabi kembali ke Makkah bersama beberapa pemuda.

 

Hari-hari berlalu, dan Nabi mulai dewasa, tetapi beliau tidak memiliki pekerjaan tetap selama masa mudanya. Akan tetapi, beberapa riwayat menyebutkan bahwa profesinya adalah:

 

(๐Ÿ๐ŸŽ) ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐š ๐Š๐š๐ฆ๐›๐ข๐ง๐ :

Nabi menghabiskan hari-harinya menggembala kambing, pertama kali di Bani Sa'd, lalu di Makkah untuk penduduknya dengan imbalan beberapa qirath. Profesi ini membutuhkan kejujuran dan kesabaran. Nabi bersabda, "Tidak ada seorang nabi pun kecuali pernah menggembala kambing." Mungkin hal ini, wallahu a'lam, karena menggembala kambing mirip dengan memimpin umat manusia; sang gembala harus mencari padang rumput yang subur dan aman serta melindungi kawanan dari bahaya. Meski pekerjaan ini berat, menggembala kambing melatih hati yang penuh kasih dan lembut, sebagaimana yang terbukti dari para penggembala kambing.

 

Jauh dari kesibukan pekerjaan dan mencari nafkah, kita beralih ke:

 

(๐Ÿ๐Ÿ) ๐ƒ๐จ๐ซ๐จ๐ง๐ ๐š๐ง ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐๐š๐›๐ข ๐Œ๐ฎ๐ก๐š๐ฆ๐ฆ๐š๐ ๐’๐ก๐š๐ฅ๐ฅ๐š๐ฅ๐ฅ๐š๐ก๐ฎ ๐€๐ฅ๐š๐ข๐ก๐ข ๐–๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐ฅ๐š๐ฆ:

Nabi yang mulia menceritakan tentang dirinya pada masa itu, dan berkata:"Aku tidak pernah terpikir untuk melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah terhadap perempuan, kecuali dua malam, dan kedua-duanya Allah melindungiku darinya. Suatu malam aku berkata kepada salah seorang pemuda Mekah—kami sedang menggembalakan kambing-kambing milik keluarga kami—'Jagalah kambing-kambingku sampai aku masuk ke Mekah dan menghabiskan malam seperti para pemuda lainnya.' Temanku berkata, 'Tentu.' Lalu aku masuk ke Mekah, dan ketika aku sampai di rumah pertama dari rumah-rumah Mekah, aku mendengar suara musik dari gendang dan seruling. Aku bertanya, 'Apa ini?' Mereka berkata, 'Si Fulan menikah dengan si Fulanah.' Maka aku duduk menyaksikan, lalu Allah membuatku tertidur. Demi Allah, tidak ada yang membangunkanku selain panas matahari. Aku kembali kepada temanku, dan dia bertanya, 'Apa yang kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Tidak ada apa-apa,' kemudian aku menceritakan kepadanya apa yang aku lihat. Lalu aku berkata lagi kepadanya pada malam lainnya, 'Jagalah kambing-kambingku sampai aku pergi ke Mekah.' Ia pun melakukannya, lalu aku masuk ke Mekah, dan ketika aku sampai, aku mendengar suara yang sama seperti malam sebelumnya. Aku bertanya dan mereka menjawab, 'Si Fulan menikahi si Fulanah.' Aku duduk menyaksikan, lalu Allah membuatku tertidur. Demi Allah, tidak ada yang membangunkanku selain panas matahari. Aku kembali kepada temanku, dan dia bertanya, 'Apa yang kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Tidak ada apa-apa,' lalu aku menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Demi Allah, setelah itu aku tidak pernah terpikir untuk melakukan hal serupa, sampai Allah memuliakanku dengan kenabian."

 

Ini adalah perlindungan ilahi yang menghalangi dirinya dari dorongan nafsu itu. Oleh karena itu, disebutkan dalam sebuah riwayat: "Tuhanku mendidikku dan menyempurnakan pendidikanku."

 

Hari-hari pun berlalu hingga Nabi yang mulia mencapai usia dua puluh tahun, dan ia menyaksikan perang yang terjadi pada bulan suci, yang dikenal sebagai:

 

๐๐ž๐ซ๐š๐ง๐  ๐…๐ข๐ฃ๐š๐ซ:

Perang ini terjadi di pasar Ukaz antara suku Quraisy bersama suku Kinanah melawan suku Qais 'Ailan. Pertempuran sengit terjadi, dan Nabi yang mulia menyiapkan anak panah untuk dilemparkan. Korban tewas banyak di kedua belah pihak hingga orang-orang bijak dari kedua pihak melihat bahwa lebih baik menghentikan peperangan dan berdamai daripada melanjutkan pertumpahan darah. Mereka menghentikan permusuhan dan kebencian, dan akibatnya terjadi:

 

๐๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐ง๐ฃ๐ข๐š๐ง ๐…๐ฎ๐๐ก๐ฎ๐ฅ:

Ini adalah perjanjian kebaikan dan keadilan. Beberapa suku Quraisy berkumpul pada bulan Dzulqa’dah di rumah Abdullah bin Jud’an at-Taimi, dan mereka bersepakat untuk tidak membiarkan ada orang yang terzalimi di Mekah, baik dari penduduk asli maupun orang asing, kecuali mereka akan membelanya. Nabi yang mulia ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… menyaksikan perjanjian ini, dan setelah Allah memuliakannya dengan kenabian, ia berkata: "Aku menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud’an sebuah perjanjian yang aku tidak ingin menukarnya dengan unta merah (harta yang sangat berharga). Seandainya aku diajak untuk menghidupkan perjanjian itu di masa Islam, aku akan memenuhinya."

 

Tidak heran, karena dia adalah Nabi keadilan dan kasih sayang.

 

Hari-hari pun berlalu, hingga Nabi yang mulia mencapai usia dua puluh lima tahun, dan dia memulai perjalanan:

 

๐๐ž๐ซ๐๐š๐ ๐šn๐ ๐š๐ง ๐ค๐ž ๐’๐ฒ๐š๐ฆ:

Nabi melakukan perjalanan dagang dengan harta milik Khadijah binti Khuwailid setelah Khadijah mendengar berita tentang kejujuran dan amanahnya. Khadijah mengutus seorang budaknya bernama Maisarah untuk menemaninya. Nabi yang mulia pergi ke Syam, dan setelah kembali ke Mekah, Khadijah melihat bahwa hartanya mendapatkan keberkahan dan keuntungan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Maisarah pun menceritakan kepada Khadijah tentang sifat-sifat mulia dari Nabi yang jujur ini. Maka, Khadijah menyebarkan kabar tersebut di seantero Mekah:

 

๐๐ž๐ซ๐ง๐ข๐ค๐š๐ก๐š๐ง ๐Œ๐ฎ๐ก๐š๐ฆ๐ฆ๐š๐ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐Š๐ก๐š๐๐ข๐ฃ๐š๐ก ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง:

Setelah para pemuka Quraisy melamarnya dan ditolak, Khadijah menyatakan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad. Dia mengungkapkan niatnya kepada sahabatnya, Nafisah binti Munabbih. Nafisah kemudian menyampaikan keinginan Khadijah kepada Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…, dan dia pun setuju. Namun, ayah Khadijah berusaha menentang pernikahan ini. Lalu, Khadijah dengan cerdiknya membuat tipu daya yang berhasil. Apa yang dilakukannya?

 

Ibnu Abbas ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง meriwayatkan bahwa Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… menyebutkan keinginan untuk menikahi Khadijah, namun ayah Khadijah tidak setuju. Khadijah lalu mengadakan pesta makan dan minum, mengundang ayahnya dan beberapa orang Quraisy. Setelah mereka makan dan minum hingga mabuk, Khadijah berkata kepada ayahnya, "Muhammad bin Abdullah melamarku, dan engkau telah menikahkan kami." Ayahnya yang dalam keadaan mabuk menyetujuinya. Ketika ia sadar, ia mendapati dirinya telah berpakaian dengan pakaian pernikahan, dan bertanya, "Apa yang terjadi?" Khadijah menjawab, "Engkau telah menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah." Dia berkata, "Apakah aku menikahkan anak yatim Abu Thalib? Demi Allah, tidak!" Khadijah lalu berkata, "Apakah engkau tidak malu? Apakah engkau ingin mempermalukan dirimu di hadapan Quraisy dan memberi tahu mereka bahwa engkau mabuk?" Khadijah terus membujuk ayahnya hingga ia setuju.

 

Begitulah pernikahan antara seorang mulia dengan seorang mulia terjadi. Hari-hari berlalu, dan rumah yang damai itu diberkahi dengan anak-anak, sementara Nabi yang mulia selalu memuliakan tamu, membantu yang membutuhkan, membela yang tertindas, dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

Suatu ketika, Mekah dilanda banjir besar yang mengalir ke Ka'bah, menghancurkan dinding-dindingnya hingga hampir runtuh. Lalu, suku-suku Quraisy sepakat untuk:

 

๐Œ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐ฎ๐ง ๐ค๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข ๐Š๐š'๐›๐š๐ก:

Mereka memutuskan bahwa hanya harta yang bersih saja yang boleh digunakan untuk pembangunan, tidak termasuk hasil prostitusi, riba, atau harta yang diperoleh dengan cara zalim. Nabi yang mulia, saat itu berusia 35 tahun, ikut serta dalam pembangunan ini, mengangkat batu dari lembah bersama kaumnya dalam acara besar ini.

Bangunan Ka'bah pun selesai, namun ketika tiba saatnya untuk menempatkan Hajar Aswad di tempatnya, terjadi perselisihan. Suku-suku Quraisy berselisih selama empat atau lima malam, masing-masing menginginkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad. Hampir saja terjadi peperangan, sampai Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi menyarankan agar mereka menyerahkan keputusan kepada orang pertama yang memasuki masjid. Mereka semua setuju. Ternyata orang pertama yang masuk adalah Muhammad bin Abdullah. Mereka semua berseru, "Kami setuju dengan yang dipercaya!" Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… meminta sehelai kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut, dan meminta para pemimpin suku yang berselisih untuk memegang ujung-ujung kain. Mereka mengangkat Hajar Aswad bersama-sama, dan ketika sudah sampai pada tempatnya, Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula. Semua suku puas, dan perselisihan yang hampir menyebabkan perang terselesaikan.

 

Hari-hari berlalu, dan Nabi yang mulia semakin merasa terasing. Wajah-wajah yang dikenalnya, namun ia mengingkari kebiasaan mereka. Ia memiliki diam yang panjang, yang dihiasi dengan perenungan dan pemikiran. Fitrahnya yang murni melarangnya untuk menyembah berhala atau takut kepada patung. Ia menjauhi kaumnya karena kebodohan mereka, dan tidak pernah menghadiri perayaan berhala, atau bersumpah demi Lat, atau mendekatkan diri kepada Uzza. Ia juga tidak pernah minum arak atau memakan sembelihan di atas patung. Ia membenci semua itu. Zaid bin Haritsah ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata: "Demi Allah yang memuliakannya dan menurunkan kitab kepadanya, ia tidak pernah menyentuh berhala hingga Allah memuliakannya dengan apa yang telah diberikan kepadanya dan menurunkan kitab kepadanya."

 

Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… adalah seorang yang bertauhid dengan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู…. Sifat-sifat mulianya membuat cinta kepadanya tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga oleh batu dan pohon. Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… berkata setelah diangkat menjadi rasul: "Aku mengenal sebuah batu di Mekah yang dulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi."

 

Hari-hari pun berlalu hingga fase baru dalam hidup Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… dimulai. Ia mulai melihat mimpi-mimpi yang kemudian menjadi kenyataan di hadapannya. Itulah awal tanda kenabian dan kerasulan, yang bermula di gua dengan wahyu {Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan}. Maka terdengarlah seruan ke seluruh penjuru dunia bahwa Muhammad telah diutus sebagai nabi!

 

๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐๐š๐›๐ข ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ข๐ง๐ฃ๐š๐ค ๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ญ ๐ฉ๐ฎ๐ฅ��๐ก ๐ญ๐š๐ก๐ฎ๐ง, ๐ฐ๐š๐ก๐ฒ๐ฎ ๐ค๐ž๐ง๐š๐›๐ข๐š๐ง ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ญ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ง.

Itulah usia empat puluh—demi kebenaran—yang penuh dengan kemuliaan akhlak, maka bagaimana lagi setelah usia empat puluh ketika ia diutus sebagai rasul bagi seluruh alam semesta!

 

{Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung}. (QS. Al-Qalam: 4)

 

Referensi:

- ๐‘€๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘Ž๐‘‘ ๐ผ๐‘š๐‘Ž๐‘š ๐ดโ„Ž๐‘š๐‘Ž๐‘‘.

- ๐‘†โ„Ž๐‘Žโ„Ž๐‘–โ„Ž ๐ต๐‘ข๐‘˜โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–.

- ๐‘†โ„Ž๐‘Žโ„Ž๐‘–โ„Ž ๐‘€๐‘ข๐‘ ๐‘™๐‘–๐‘š.

- ๐ฝ๐‘Ž๐‘š๐‘–๐ด๐‘ก-๐‘‡๐‘–๐‘Ÿ๐‘š๐‘–๐‘‘๐‘ง๐‘–.

- ๐‘†โ„Ž๐‘Žโ„Ž๐‘–โ„Ž ๐‘ค๐‘Ž ๐ทโ„Ž๐‘Ž๐‘–๐‘“ ๐ด๐‘™-๐ฝ๐‘Ž๐‘š๐‘–๐ด๐‘ โ„Ž-๐‘†โ„Ž๐‘Ž๐‘”โ„Ž๐‘–๐‘Ÿ ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐ด๐‘™-๐ด๐‘™๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘–.

- ๐‘†๐‘–๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐ผ๐‘๐‘›๐‘ข ๐ป๐‘–๐‘ ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘š (1/164) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

- ๐ด๐‘™-๐น๐‘ข๐‘ โ„Ž๐‘ข๐‘™ ๐‘“๐‘– ๐‘†๐‘–๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐ด๐‘Ÿ-๐‘…๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘™ ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐ผ๐‘๐‘›๐‘ข ๐พ๐‘Ž๐‘ก๐‘ ๐‘–๐‘Ÿ (83) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

- ๐ด๐‘™-๐พ๐‘Ž๐‘š๐‘–๐‘™ ๐‘“๐‘– ๐ด๐‘ก-๐‘‡๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜โ„Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐ผ๐‘๐‘›๐‘ข ๐ด๐‘ก๐‘ ๐‘–๐‘Ÿ (2/32) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

- ๐‘€๐‘ข๐‘˜โ„Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘ โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘†๐‘–๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐‘…๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘†๐‘ฆ๐‘Ž๐‘–๐‘˜โ„Ž ๐ด๐‘๐‘‘๐‘ข๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘–๐‘› ๐ผ๐‘š๐‘Ž๐‘š ๐‘€๐‘ขโ„Ž๐‘Ž๐‘š๐‘š๐‘Ž๐‘‘ ๐‘๐‘–๐‘› ๐ด๐‘๐‘‘๐‘ข๐‘™ ๐‘Š๐‘Žโ„Žโ„Ž๐‘Ž๐‘ (25) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

- ๐ด๐‘Ÿ-๐‘…๐‘Žโ„Ž๐‘–๐‘ž ๐ด๐‘™-๐‘€๐‘Ž๐‘˜โ„Ž๐‘ก๐‘ข๐‘š ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘†๐‘ฆ��๐‘–๐‘˜โ„Ž ๐‘†โ„Ž๐‘Ž๐‘“๐‘–๐‘ข๐‘Ÿ ๐‘…๐‘Žโ„Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐ด๐‘™-๐‘€๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘˜๐‘“๐‘ข๐‘Ÿ๐‘– (71) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

- ๐ด๐‘ -๐‘†๐‘–๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐ด๐‘›-๐‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ค๐‘–๐‘ฆ๐‘Žโ„Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘†๐‘ฆ๐‘Ž๐‘–๐‘˜โ„Ž ๐‘€๐‘ขโ„Ž๐‘Ž๐‘š๐‘š๐‘Ž๐‘‘ ๐ด๐‘ โ„Ž-๐‘†โ„Ž๐‘ข๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘– (1/21) ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.

http://saaid.org/mohamed/327.htm

Comments

Popular Posts