πππ¦ππ πππ‘
π£ππππππ₯ππ‘
Fatimah sedang duduk ketika ibunya menerima kedatangan
tetangganya yang datang berkunjung. Ibu itu hampir pingsan ketika melihat
putrinya, Fatimah, tetap duduk dan tidak bangkit untuk menyambut tamu yang baik
dan mulia itu. Tetangga itu, meskipun menyadari hal tersebut, tetap mengulurkan
tangannya untuk bersalaman dengan Fatimah, tetapi Fatimah mengabaikannya dan
tidak mengulurkan tangannya untuk menyambut sang tamu. Tetangga itu dibiarkan
berdiri beberapa saat dengan tangan terulur, sementara ibunya hanya bisa
berteriak kepadanya: "Bangun dan salami tantemu!" Namun, Fatimah
hanya menatap tanpa ekspresi dan tidak bergerak dari kursinya, seolah tidak
mendengar kata-kata ibunya.
Tetangga itu merasa sangat malu dengan perlakuan Fatimah,
merasa dirinya telah dipermalukan, dan akhirnya menarik kembali tangannya. Ia
kemudian berbalik hendak pulang sambil berkata, "Tampaknya saya datang di
waktu yang tidak tepat!"
Pada saat itu, Fatimah langsung melompat dari kursinya,
memegang tangan tetangganya, dan mencium kepalanya seraya berkata,
"Maafkan aku, Tante. Demi Allah, aku tidak bermaksud menyinggung
perasaanmu." Dia memegang tangan tetangganya dengan lembut, penuh kasih
sayang, dan hormat, lalu memintanya duduk sambil berkata, "Tante tahu,
betapa aku sangat mencintaimu dan menghormatimu?"
Fatimah berhasil menenangkan hati tetangganya dan menghapus
rasa sakit yang telah ditimbulkan oleh sikapnya yang aneh dan tidak dimengerti,
sementara ibunya berusaha menahan amarah yang hampir meledak karena ulah
putrinya.
Ketika tetangga itu hendak berpamitan, Fatimah segera
bangkit dan mengulurkan tangannya, lalu memegang tangan kanan tetangganya yang
masih terulur. Dia berkata, "Seharusnya biarkan tanganku tetap terulur
tanpa kau sambut, agar aku bisa merasakan betapa buruknya yang telah aku
lakukan terhadapmu." Namun, tetangga itu memeluk Fatimah dan mencium
kepalanya sambil berkata, "Tidak apa-apa, anakku. Aku bersumpah, aku tahu
kau tidak bermaksud buruk."
Setelah tetangga itu pergi, ibu Fatimah dengan nada marah
yang terpendam berkata kepada Fatimah, "Apa yang membuatmu bertindak
seperti itu?" Fatimah menjawab, "Aku tahu telah membuatmu malu, Ibu.
Maafkan aku." Ibunya lalu berkata, "Dia mengulurkan tangannya padamu,
tapi kau tetap duduk tanpa berdiri untuk menyambutnya?" Fatimah menjawab,
"Ibu, kau juga melakukan hal yang sama!" Ibunya terkejut dan berkata,
"Aku melakukan itu, Fatimah?" Fatimah menjawab, "Ya, Ibu
melakukannya siang dan malam." Ibunya berkata dengan tegas, "Apa yang
kulakukan siang dan malam?" Fatimah menjawab, "Allah, Ibu. Allah yang
Maha Kuasa mengulurkan tangan-Nya kepadamu siang hari agar kau bertaubat, dan
Dia mengulurkan tangan-Nya kepadamu pada malam hari agar kau bertaubat, tetapi
kau tidak bertaubat. Kau tidak mengulurkan tanganmu kepada-Nya untuk menyambut
janji taubat."
Ibu itu terdiam, terkejut oleh perkataan putrinya. Fatimah
melanjutkan, "Bukankah kau merasa sedih, Ibu, saat aku tidak mengulurkan
tangan untuk menyambut tetangga kita? Kau khawatir citraku di matanya akan
rusak? Ibu, aku merasa sedih setiap hari melihatmu tidak mengulurkan tanganmu
untuk bertaubat kepada Allah, yang mengulurkan tangan-Nya kepadamu siang dan
malam. Nabi Muhammad ο·Ί bersabda dalam hadits
yang sahih:
Ψ₯Ω Ψ§ΩΩΩ
ΨͺΨΉΨ§ΩΩ ΩΨ¨Ψ³Ψ· ΩΨ―Ω Ψ¨Ψ§ΩΩΩΩ ΩΩΨͺΩΨ¨ Ω
Ψ³ΩΨ‘ Ψ§ΩΩΩΨ§Ψ± ، ΩΩΨ¨Ψ³Ψ· ΩΨ―Ω Ψ¨Ψ§ΩΩΩΨ§Ψ± ΩΩΨͺΩΨ¨ Ω
Ψ³ΩΨ‘ Ψ§ΩΩΩΩ
ΨΨͺΩ ΨͺΨ·ΩΨΉ Ψ§ΩΨ΄Ω
Ψ³ Ω
Ω Ω
ΨΊΨ±Ψ¨ΩΨ§. Ψ±ΩΨ§Ω Ω
Ψ³ΩΩ
.
πΊπππππππππππ
π¨ππππ
πππππππππππ
ππππππ-π΅ππ
πππ
π
πππππ
ππππ
πππππ
ππππππππ
ππππππ
πππππ
ππππ
πππππππ
π
πππ
π
π
πππππ
ππππ,
π
ππ
πππππππππππ
ππππππ-π΅ππ
πππ
π
πππππ
ππππ
πππππ
ππππππππ
ππππππ
πππππ
ππππ
πππππππ
π
πππ
π
π
πππππ
ππππ,
ππππππ
ππππππππ
ππππππ
π
πππ
πππππ.’
(π―πΉ.
π΄πππππ)."
"Apakah Ibu melihat? Tuhan kita mengulurkan tangan-Nya
kepadamu dua kali setiap hari, tetapi Ibu tetap menahan tanganmu dan tidak
mengulurkannya kepada-Nya dengan taubat!"
Air mata ibu itu mulai berlinang.
Fatimah melanjutkan dengan nada yang semakin lembut,
"Aku khawatir padamu, Ibu, karena kau tidak shalat. Hal pertama yang akan
dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Aku juga sedih melihatmu keluar rumah
tanpa mengenakan jilbab yang Allah perintahkan. Bukankah kau merasa malu dengan
tindakanku terhadap tetangga kita? Aku juga merasa malu di hadapan
teman-temanku saat mereka bertanya tentang penampilanmu yang tidak menutup
aurat, sementara aku berhijab."
Air mata taubat mengalir deras di pipi sang ibu, dan Fatimah
pun ikut menangis bersamanya. Keduanya berpelukan erat, dan ibunya berkata
berulang kali, "Aku bertaubat kepada-Mu, ya Allah. Aku bertaubat
kepada-Mu, ya Allah."
Allah berfirman: *‘Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa
selain Allah?’* Allah telah melihatmu saat kau membaca kisah ini, mengetahui
apa yang ada dalam hatimu sekarang, dan menantikan taubatmu. Maka, jangan
sampai Allah melihatmu kecuali dalam keadaan bertaubat, terutama di bulan yang
mulia ini, ketika pintu-pintu azab ditutup dan pintu-pintu rahmat dibuka. Ini
adalah kesempatan besar untuk kembali kepada Allah, yang mungkin tidak terulang
lagi. Ramadan bisa datang, sementara engkau mungkin sudah tiada. Semoga Allah
menolong kita semua.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran yang membuka pintu
kebaikan untuk mengajak kepada taubat kepada Allah.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita
Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
http://saaid.org/gesah/313.htm
.jpeg)
Comments
Post a Comment