๐Š๐ˆ๐’๐€๐‡ ๐€๐‰๐€๐ˆ๐ ๐’๐„๐Ž๐‘๐€๐๐† ๐€๐๐€๐Š ๐˜๐€๐“๐ˆ๐Œ ๐˜๐€๐๐† ๐Œ๐„๐๐†๐€๐‹๐€๐Œ๐ˆ ๐Š๐„๐‡๐ˆ๐ƒ๐”๐๐€๐ ๐๐„๐๐”๐‡ ๐๐„๐๐ƒ๐„๐‘๐ˆ๐“๐€๐€๐ ๐Š๐„๐Œ๐”๐ƒ๐ˆ๐€๐ ๐Œ๐„๐๐ƒ๐€๐๐€๐“๐Š๐€๐ ๐Š๐€๐’๐ˆ๐‡ ๐’๐€๐˜๐€๐๐† ๐ƒ๐€๐ ๐‘๐€๐‡๐Œ๐€๐“ ๐€๐‹๐‹๐€๐‡

๐‘ซ๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ฉ๐’–๐’Œ๐’– "๐‘บ๐’†๐’”๐’–๐’‚๐’•๐’– ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ซ๐’Š๐’“๐’Š๐’Œ๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘ด๐’Š๐’“๐’Š๐’‘ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘ซ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’–" ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘บ๐’‚๐’๐’˜๐’‚ ๐‘จ๐’-'๐‘ผ๐’…๐’‰๐’‚๐’Š๐’…๐’‚๐’.

 

Pengisah berkata:

 

Aku tidak ingin darimu, Nyonya, selain menyebarkan ceritaku agar orang-orang memahami bahwa meskipun kehidupan membawa penderitaan yang berat dan orang-orang berbuat zalim pada seseorang, serta kehancuran terus menumpuk di hatinya, pasti ada jalan keluar menuju cahaya yang dapat diikuti hingga dia bangkit kembali dan melanjutkan perjalanannya selama napas masih keluar masuk dari dadanya.

 

Akan aku ceritakan kisahku dari awal, Nyonya. Aku telah menjadi anak yatim ibu sejak usia empat tahun, sehingga aku merasakan pahitnya kehilangan, sakitnya kesepian, dan patahnya jiwa ketika aku melihat setiap anak perempuan menggandeng tangan ibunya di acara sosial atau saat seorang ibu membelai kepala anak perempuannya dengan penuh kasih sayang. Kepergian ibuku tidak terlalu berdampak pada ayahku, karena dia menikah sebulan setelah kematiannya dengan seorang wanita yang, jika aku bisa memilih, aku tidak akan menganggapnya sebagai manusia. Aku merasakan segala bentuk penyiksaan di bawah tangannya, sementara ayahku diam saja. Aku berharap mati setiap saat hingga kematian menjadi impian terindahku.

 

Karena kekejamannya, aku adalah orang terakhir yang tidur di malam hari dan yang pertama bangun pagi. Bahkan aku yang menyiapkan teh dan sarapan sebelum pergi ke sekolah. Hari-hari terasa begitu lambat, hingga aku merasa satu hari berulang tiga kali karena panjangnya jam yang tak pernah berlalu.

 

Aku merasa tulang rusukku seperti ditindih seribu gunung, dan teriakan sakitku hanya terpantul kembali ke tenggorokanku tanpa ada yang mendengarnya. Aku benar-benar tercekik. Namun, meskipun menderita ketidakadilan, kekejaman, dan kehilangan, pelipur laraku hanyalah sekolah. Aku unggul di sana hingga menimbulkan kecemburuan saudara-saudariku dari pihak ayah, yang mendorong istri ayahku untuk mengeluarkanku dari sekolah ketika aku baru di kelas satu SMA.

 

Jiwaku hancur seperti cangkir kopi yang pecah menjadi serpihan kecil. Aku merasa terasing dari diriku sendiri, seakan seorang jagal telah menguliti kulitku seperti hewan yang dikuliti. Aku menjadi tidak mengenali diriku lagi—jiwaku hancur, dan rasa keterasingan itu terus menghantuiku.

 

Aku berpikir untuk bunuh diri, tetapi aku takut akan murka Allah. Upaya istri ayahku untuk merendahkanku dan membuatku merasa bukan manusia terus berlanjut, seolah hidupnya didedikasikan untuk menindasku.

 

Dia memiliki saudara yang mengalami keterbelakangan mental dan cacat fisik serta tidak bisa berbicara. Aku tidak tahu bagaimana dia berhasil meyakinkan ayahku, sang penghulu, dan semua orang bahwa aku setuju untuk menikah dengannya. Aku mencoba berbagai cara untuk menolak, tetapi tidak ada yang mendengarkanku. Aku mengancam akan kabur, dan dia mengancam akan membunuhku. Aku mengancam akan bunuh diri, dan dia menertawakanku, berkata, "Kalau begitu aku akan bebas darimu, inilah yang aku inginkan."

 

Karena aku hanya seorang anak yatim yang takut dan lemah, tidak ada yang mau mendengarkan jeritanku, dan aku pun menyerah karena itu satu-satunya pilihan yang aku miliki saat itu.

 

Aku menikah dengannya dalam sebuah tragedi kemanusiaan di mana suamiku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya. "Rumah tangga" kami hanyalah sebuah kamar di atap rumah kami yang sebenarnya adalah bekas kandang merpati.

 

Dia memperlakukannya dengan kejam, sering memukulinya tanpa ampun ketika dia berantakan saat makan, menjerit keras, atau mengganggu salah satu putrinya yang manja. Aku mulai merasa iba padanya, karena kami berdua berbagi penderitaan hidup dan ketidakadilan dunia. Aku mulai menerima suamiku, bukan sebagai suami, tetapi sebagai anak besar yang membutuhkan perlindunganku. Aku merawatnya dan merasakan naluri keibuan terhadapnya.

 

Lima tahun berlalu dalam hidupku, sebelum akhirnya sesuatu berubah. Suamiku menderita kejang parah dan meninggal dalam waktu seminggu. Aku tidak tahu apakah harus bersedih atas kepergiannya atau bahagia karena akhirnya terbebas dari pernikahan itu.

Kemudian, aku mengetahui rahasia kenapa istri ayahku sangat ingin mempertahankan saudaranya. Aku mendapati bahwa suamiku (yang mengalami keterbelakangan mental) telah mewarisi sejumlah besar uang dari orang tuanya. Istri ayahku sangat gigih menyembunyikan informasi ini dariku dan dari semua orang, lalu berjuang keras untuk menghalangiku mendapatkan warisan tersebut, dan berhasil.

 

Aku pun merasa seperti seorang yang gagal yang kembali dengan tangan hampa, kehilangan segalanya!

 

Aku menderita depresi berat, melihat hidupku seperti "tasbih" di tangan seseorang yang menggoyangkannya ke kanan dan kiri, membuat hidupku terombang-ambing ke segala arah. Hidupku tergambar sesuai keinginan mereka...!

 

Tembok kesuraman, kegagalan, kesedihan, dan keputusasaan semakin tinggi di sekitarku hari demi hari hingga hampir mencekikku. Satu tahun penuh penderitaan berlalu.

 

Setelah kematian suamiku, semua impianku untuk menyelesaikan studi runtuh di hadapanku. Aku menjadi sekadar pelayan bagi istri ayah dan anak-anaknya, sampai akhirnya terjadi perubahan besar dalam hidupku. Seorang duda berusia 60 tahun yang berjarak 39 tahun denganku, dengan tujuh anak (yang paling kecil seusia denganku), melamarku.

 

Aku menolak dan berteriak, namun suaraku kembali sia-sia, sama seperti sebelumnya.

 

Harta dan properti pria itu menjadi umpan yang menggiurkan bagi ayah dan istrinya, dan pernikahan pun dilakukan. Aku merasa seperti domba yang digiring ke tempat penyembelihan.

 

Pada malam pernikahan,

 

Aku pergi bersamanya ke rumahnya dan masuk untuk pertama kalinya!

 

Bukan kemewahan rumahnya, furnitur, lukisan indah, pencahayaan emas, karpet mahal, atau pernak-pernik eksotis yang menarik perhatianku...

 

Saat itu, aku hanya mendengarkan jeritan sakit di dalam diriku... pikiran-pikiran gelap yang meremas otakku...

 

Penyesalan yang mengguncang dadaku...

 

Bayangan hidupku yang menyedihkan berputar lambat di depan mataku. Ketika kami berdua sendiri di kamar, dia berbicara denganku dengan kasih sayang yang mendalam, perasaan hangat yang selama ini kurindukan...

 

Sampai aku meragukan diriku sebagai manusia. Aku menangis tersedu-sedu dan tubuhku bergetar ketakutan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seseorang memelukku dengan cinta, kelembutan, dan kejujuran seperti itu. Dia memberitahuku bahwa dia setia kepada istrinya sepanjang sepuluh tahun penyakitnya...

 

Aku menceritakan seluruh kisahku kepadanya... Air matanya bercampur dengan janggut putih pendeknya, dan pandangan kaget terlihat di matanya saat dia berkata: Bagaimana kamu bisa bertahan dengan semua penderitaan itu?

 

Hari demi hari berlalu, dan hubungan kami semakin erat, hingga aku mencintainya sepenuh hati dan bersyukur kepada Allah yang mengirimnya kepadaku setelah semua penderitaan yang kualami dalam hidupku...

 

Aku belajar satu pelajaran hidup: ketika kamu merasa semua orang meninggalkanmu, dan kamu sendirian di sebuah lorong gelap menjilat lukamu dengan penuh kepahitan...

 

Allah akan menyentuh hatimu dengan lembut dan menerangi jalan gelap yang kamu kira tidak akan pernah bisa diterangi.

 

Aku mencintai anak-anaknya, dan mereka mencintaiku seolah-olah aku adalah saudara mereka. Untuk pertama kalinya juga, aku merasakan kebersamaan keluarga dan kehangatan di dalamnya...

 

Kami berbagi keindahan hari-hari, momen kebahagiaan, dan waktu penuh perhatian...

 

Bersama suami dan anak-anaknya, aku mengenal makna indah malam-malam Ramadan, nikmat berbuka puasa bersama, kebahagiaan hari raya, berkumpul bersama keluarga, pertemuan kerabat, dan keindahan bepergian dengan orang-orang yang kucintai dan mencintaiku...

 

Tahun-tahun berlalu bersama suamiku yang tercinta seperti mimpi indah yang tidak pernah ingin aku bangun darinya...

 

Tahukah kamu, kadang-kadang aku meletakkan tanganku di hidungnya untuk memastikan apakah dia masih bernapas atau tidak?

 

Aku takut kehilangannya, takut kembali ke titik hitam yang membuatku merasa tidak manusiawi. Dia bukan sekadar suami bagiku, dia adalah inspirasiku, guruku, ayahku, kekasihku, dan segalanya dalam hidupku...

 

Aku melahirkan tiga anak darinya...

 

Dengan dukungannya, aku menyelesaikan pendidikan SMA, universitas, magister, dan doktor!

 

Namun, siapa yang mengatakan bahwa tahun-tahun penuh kebahagiaan itu akan abadi? Dan momen-momen bersama orang yang membuatmu merasa berarti dalam hidup akan bertahan?

 

Itulah kebijaksanaan Allah dalam hidup... Tidak ada yang berjalan dalam ritme yang sama.

 

Dan kemudian datanglah momen yang kutakutkan, ketika suamiku jatuh sakit, penyakit yang hanya memberinya waktu satu bulan...

 

Sebelum dia meninggalkan dunia ini setelah 17 tahun pernikahan kami, dia memintaku untuk berjanji padanya bahwa aku akan tetap kuat dan tidak akan hancur oleh keadaan dan waktu. Bahwa aku akan tetap menjadi wanita kuat yang dia kenal... wanita yang telah menantang dirinya sendiri berkat pertolongan Allah dan bangkit kembali, wanita yang dulunya hanyalah puing-puing ketika dia menikahinya.

 

Aku berjanji dengan tulus... dan suamiku pun pergi.

 

Aku menepati janjiku, mengejar mimpiku, dan aku tidak lagi menjadi anak yatim yang lemah.

 

Aku membuka proyek pendidikan sendiri dan sukses besar. Sekarang, anak-anak suamiku dan anak-anakku adalah kekayaan sejati bagiku, Allah telah menggantikan penderitaanku dengan kebaikan...

 

Namun, kadang-kadang ketika aku mengingat kehidupan menyedihkan yang pernah kujalani, aku merasa akulah yang bertanggung jawab atas semua tragedi yang terjadi padaku...!

 

Mungkin karena ketakutanku terhadap istri ayah dan ketidakmampuanku memberi tahu ayah tentang apa yang terjadi saat dia tidak ada, itulah belenggu yang merenggut banyak kemanusiaanku saat itu. Aku berkata pada diriku,

 

Mungkin...!

 

Lalu aku kembali bertanya pada diriku, bagaimana jika aku melakukan ini dan itu?

 

Jika aku berteriak...

 

Jika aku memberontak terhadap apa yang terjadi padaku...

 

Jika... jika... jika...

 

Lalu aku kembali mengingat dengan baik bahwa selama masa-masa sulit di rumah lamaku, aku tidak pernah kehilangan keyakinanku kepada Allah Ta'ala, meskipun kadang-kadang aku lemah, aku selalu, tanpa putus asa atau berhenti,

 

Berdoa...

 

Dan berdoa...

 

Dan berdoa...

 

Setiap kali awan hitam menggelayuti langit hidupku, aku merasa bahwa Allah sedang merencanakan sesuatu yang baik untukku di hari-hari mendatang...

 

Aku percaya pada keadilan Tuhanku, dan bahwa segala ketidakadilan yang menimpaku dari istri ayah dan anak-anaknya... Kehidupan yatim piatu yang pahit yang aku jalani... Allah akan menggantinya dengan kehidupan yang lebih baik... Dia akan menyentuh jiwaku dengan rahmat-Nya dan akan mengirimkan kegembiraan yang menenangkan hatiku sampai aku lupa apa yang telah terjadi...

 

Maka,

 

Apa pun kesulitan yang sedang kamu hadapi sekarang, baik itu rasa patah hati, kehilangan orang tercinta, kekurangan uang, kegagalan emosional, kegagalan proyek, atau keruntuhan hubungan...

 

Atau jika kamu merasa kendali hidup mulai terlepas dari tanganmu, jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhanmu... Berdoalah dengan doa orang yang sangat membutuhkan, dari lubuk hatimu.

 

Berprasangka baik kepada-Nya... Bicaralah pada-Nya tentang perasaanmu... Tentang kekecewaanmu... Tentang kesempitan yang kamu alami... Tentang mimpimu yang hancur... Tentang harapanmu yang hilang... Tentang rasa sakitmu di dalam... Tumpahkan semua yang kamu rasakan kepada-Nya... Dan setelah selesai, mohon kepada-Nya agar merawat jiwamu... Agar menggantikanmu dengan yang lebih baik... Agar membuka pintu rezeki dan rahmat-Nya untukmu, dan kamu akan merasakan ketenangan total... Ketenteraman dan kedamaian yang merayap ke dalam hatimu yang lelah. Jangan putus asa jika jawaban doamu tertunda, karena malam yang paling gelap adalah sebelum terbitnya fajar dan sinarnya...

 

Ibn Wahb al-Himyari berkata:

 

*"Sungguh aku berdoa kepada Allah hingga seakan-akan 

aku melihat dengan prasangka baik apa yang Allah akan lakukan."*

 

*"Aku mengetuk pintu langit, berharap 

pada pemberian yang dermawan, tak pernah gagal bagi pemintanya."*

 

*"Siapa lagi yang bisa menjadi Tuhanku dan Pemimpinku selain Tuhan Yang Maha Pengasih, 

dan siapa lagi yang aku ungkapkan keinginanku selain Dia, yang tak diketahui orang lain?"*

 

*"Ketika aku menginginkan sesuatu, aku mengetuk pintu-pintu, 

menyampaikan kebutuhanku kepada Penguasa segala kebutuhan."*

 

*"Segala kebaikan ada pada-Nya, dari-Nya datang kebaikan, dan seluruh kebaikan milik-Nya, 

di hadapan-Nya segala kebaikan bersinar dengan indahnya."*

 

Hukum Kesepuluh:

 

Semua peristiwa buruk yang kamu alami, jangan pernah hilangkan prasangka baikmu kepada Tuhanmu. Dekatlah dengan-Nya, ajukan doamu kepada-Nya, dan jadilah gigih dalam berdoa.

 

๐€๐ฉ๐š ๐ข๐ญ๐ฎ ๐๐จ๐š?

 

๐๐ž๐ซ๐๐จ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐๐š๐ซ๐ข ๐ก๐š๐ญ๐ข๐ฆ๐ฎ, ๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐›๐š๐ฒ๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ง ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฉ๐ซ๐š๐ฌ๐š๐ง๐ ๐ค๐š ๐›๐š๐ข๐ค๐ฆ๐ฎ ๐›๐š๐ก๐ฐ๐š ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐๐จ๐š๐ฆ๐ฎ ๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ญ๐ž๐ซ๐ค๐š๐›๐ฎ๐ฅ. ๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ง๐š๐ก ๐ค๐ž๐ก๐ข๐ฅ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ข๐ฆ๐š๐ง๐ฆ๐ฎ, ๐ค๐š๐ซ๐ž๐ง๐š ๐ฃ๐ข๐ค๐š ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ค๐ž๐ก๐ข๐ฅ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ข๐ฆ๐š๐ง, ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ค๐ž๐ก๐ข๐ฅ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ ๐š๐ฅ๐š๐ง๐ฒ๐š.

Sumber:

http://saaid.org/gesah/484.htm

Comments

Popular Posts