๐—ž๐—œ๐—ฆA๐—›
"๐—ช๐—”๐—๐—”๐—›๐—ก๐—ฌ๐—” ๐— ๐—˜๐—ฅ๐—ข๐—ก๐—” ๐——๐—”๐—ก ๐—ง๐—˜๐—ฅ๐—ฆ๐—˜๐—ก๐—ฌ๐—จ๐— "

**Muhammad Sa'id Qasim** 

@__5556

 

๐ท๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘›๐‘Ž๐‘š๐‘Ž ๐ด๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘Œ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘€๐‘Žโ„Ž๐‘Ž ๐‘ƒ๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘ ๐‘–โ„Ž, ๐‘€๐‘Žโ„Ž๐‘Ž ๐‘ƒ๐‘’๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘”. 

๐‘†๐‘’๐‘”๐‘Ž๐‘™๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘—๐‘– ๐‘๐‘Ž๐‘”๐‘– ๐ด๐‘™๐‘™๐‘Žโ„Ž, ๐‘‡๐‘ขโ„Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘’๐‘ ๐‘ก๐‘Ž ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š. ๐‘†โ„Ž๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘œ๐‘”๐‘Ž ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘๐‘Ž๐‘๐‘– ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘€๐‘ขโ„Ž๐‘Ž๐‘š๐‘š๐‘Ž๐‘‘, ๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘ข๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘”๐‘Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก-๐‘ ๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž. 

๐ด๐‘š๐‘š๐‘Ž ๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘ข:

Abu Al-Ash datang kepada Nabi Muhammad ๏ทบ sebelum masa kenabian dan berkata, "Aku ingin menikahi putrimu yang tertua, Zainab." 

Nabi ๏ทบ menjawab, "Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum meminta izinnya." 

Kemudian Nabi ๏ทบ menemui Zainab dan berkata kepadanya, "Putra bibimu telah datang kepadaku dan menyebut namamu. Apakah engkau menyetujui dia sebagai suamimu?" 

Wajah Zainab memerah dan dia tersenyum. 

Nabi ๏ทบ pun keluar, dan Zainab menikah dengan Abu Al-Ash bin Rabi', memulai kisah cinta yang kuat. 

Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak, 'Ali dan 'Umamah.

 

Namun, sebuah masalah besar muncul ketika Nabi Muhammad ๏ทบ menerima wahyu kenabian, sementara Abu Al-Ash sedang bepergian. Ketika dia kembali, dia menemukan bahwa istrinya telah masuk Islam. 

Abu Al-Ash memasuki rumah dan Zainab menyambutnya dengan berita, "Aku punya kabar penting untukmu." 

Tetapi Abu Al-Ash meninggalkannya, membuat Zainab terkejut dan mengikutinya, seraya berkata, "Ayahku telah diutus sebagai Nabi, dan aku telah masuk Islam." 

Abu Al-Ash berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku lebih dulu?" 

Dan di antara mereka muncul masalah besar — masalah akidah.

 

Zainab menjelaskan, "Aku tidak akan pernah mendustakan ayahku. Ayahku bukan pembohong, dia adalah orang yang jujur dan terpercaya. Aku tidak sendirian; ibuku, saudara-saudaraku, sepupumu (Ali bin Abi Thalib), sepupumu (Utsman bin Affan), dan teman baikmu (Abu Bakar) juga telah masuk Islam." 

Abu Al-Ash berkata, "Namun aku tidak ingin orang berkata bahwa aku mengkhianati kaumnya atau menolak leluhurku hanya demi istriku. Ayahmu bukan orang yang dituduh." 

Lalu dia berkata, "Apakah engkau tidak bisa mengerti dan menghargai?" 

Zainab menjawab, "Siapa yang akan mengerti jika bukan aku? Tapi aku adalah istrimu, dan aku akan membantumu menuju kebenaran hingga engkau mampu mencapainya." 

๐’๐’‚๐’Š๐’๐’‚๐’ƒ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’‘๐’‚๐’•๐’Š ๐’‹๐’‚๐’๐’‹๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ 20 ๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’, ๐’Ž๐’†๐’”๐’Œ๐’Š ๐‘จ๐’ƒ๐’– ๐‘จ๐’-๐‘จ๐’”๐’‰ ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Œ๐’†๐’Œ๐’–๐’‡๐’–๐’“๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚.

Saat hijrah terjadi, Zainab datang kepada Nabi ๏ทบ dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku tetap bersama suamiku?" 

Nabi ๏ทบ menjawab, "Tetaplah bersama suamimu dan anak-anakmu." 

Zainab tetap tinggal di Mekkah hingga terjadi Perang Badar. 

Abu Al-Ash memutuskan untuk ikut berperang di pihak Quraisy, dan Zainab merasa sangat khawatir, memohon kepada Allah agar dia tidak kehilangan ayah atau suaminya pada hari itu. 

 

Abu Al-Ash ikut berperang dan tertangkap sebagai tawanan. Ketika berita sampai ke Mekkah, Zainab bertanya tentang nasib ayahnya dan dikabarkan bahwa kaum Muslimin menang. 

Zainab bersujud syukur, lalu bertanya, "Apa yang terjadi pada suamiku?" 

Mereka menjawab, "Dia ditawan." 

Zainab mengirimkan uang tebusan untuk membebaskan suaminya, tetapi dia tidak memiliki harta yang cukup. Maka, dia mengirimkan kalung yang dahulu diberikan ibunya, Khadijah, sebagai tebusan. 

 

Ketika Nabi ๏ทบ melihat kalung tersebut, beliau menangis dan berkata, "Ini adalah kalung Khadijah." 

Kemudian Nabi ๏ทบ berdiri dan berkata kepada orang-orang, “Wahai manusia, sesungguhnya orang ini (Abu al-‘Ash) adalah menantu yang baik, dan kami tidak pernah mencelanya. Tidakkah kalian mau membebaskannya?” Mereka menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.”

 

Nabi ๏ทบ kemudian memberikan kalung itu dan berkata kepada Abu al-‘Ash, “Sampaikan kepada Zainab agar dia tidak menyia-nyiakan kalung Khadijah.” Lalu Nabi ๏ทบ berkata kepada Abu al-‘Ash, “Wahai Abu al-‘Ash, izinkan aku berbicara denganmu secara pribadi.” Kemudian beliau berbicara dengan Abu al-‘Ash secara terpisah dan berkata, “Wahai Abu al-‘Ash, Allah memerintahkanku untuk memisahkan antara seorang Muslim dan kafir, tidakkah kamu mau mengembalikan putriku kepadaku?” Abu al-‘Ash menjawab, “Ya.”

 

Zainab pun keluar menyambut suaminya, Abu al-‘Ash, di pintu gerbang Makkah. Ketika Abu al-‘Ash melihat Zainab, ia berkata, “Aku akan pergi.” Zainab bertanya, “Ke mana?” Abu al-‘Ash menjawab, “Bukan aku yang akan pergi, melainkan kamu yang akan pergi ke ayahmu.” Zainab bertanya, “Kenapa?” Abu al-‘Ash menjawab, “Karena aku harus berpisah denganmu. Kembalilah kepada ayahmu.” Zainab berkata, “Maukah kamu menemani dan masuk Islam?” Abu al-‘Ash menjawab, “Tidak.”

 

Zainab kemudian membawa anak-anaknya dan pergi ke Madinah. Selama enam tahun lamanya, para pelamar datang untuk melamarnya, tetapi Zainab terus menolak dengan harapan suaminya akan kembali. Setelah enam tahun, Abu al-‘Ash pergi dengan kafilah dari Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan beberapa sahabat. Abu al-‘Ash kemudian menuju rumah Zainab dan mengetuk pintunya tepat sebelum adzan Subuh. Ketika Zainab melihatnya, dia bertanya, “Apakah kamu datang sebagai seorang Muslim?” Abu al-‘Ash menjawab, “Tidak, aku datang melarikan diri.” Zainab bertanya lagi, “Apakah kamu akan masuk Islam?” Abu al-‘Ash menjawab, “Tidak.” Zainab berkata, “Jangan takut. Selamat datang wahai anak paman, selamat datang wahai ayah dari Ali dan Umamah.”

 

Setelah Nabi ๏ทบ memimpin shalat Subuh, terdengar suara dari belakang masjid: “Aku telah memberikan perlindungan kepada Abu al-‘Ash bin al-Rabi'.” Nabi ๏ทบ bertanya, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Mereka menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Zainab pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu al-‘Ash, jika dia jauh adalah anak pamanku, dan jika dia dekat adalah ayah dari anak-anakku. Aku telah memberikan perlindungan kepadanya, wahai Rasulullah.”

 

Nabi ๏ทบ kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya orang ini (Abu al-‘Ash) adalah menantu yang baik. Dia berbicara jujur kepadaku dan memenuhi janjinya. Jika kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka itu lebih aku sukai. Jika tidak, maka keputusan ada di tangan kalian dan hak kalian untuk menentukan.” Orang-orang menjawab, “Kami akan mengembalikan hartanya, wahai Rasulullah.”

 

Nabi ๏ทบ berkata kepada Zainab, “Kami telah memberikan perlindungan kepada siapa yang engkau beri perlindungan, wahai Zainab.”

 

Kemudian Nabi ๏ทบ pergi ke rumah Zainab dan berkata, “Wahai Zainab, hormati dia karena dia adalah anak pamanmu dan ayah dari anak-anakmu, tetapi jangan biarkan dia mendekatimu, karena dia tidak halal bagimu.” Zainab menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

 

Zainab berkata kepada Abu al-‘Ash bin al-Rabi': “Apakah perpisahan kita tidak mengganggumu? Tidakkah kamu mau masuk Islam dan tetap bersama kami?” Abu al-‘Ash menjawab, “Tidak.”

 

Abu al-‘Ash mengambil hartanya dan kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, dia berkata kepada orang-orang, “Wahai manusia, ini adalah harta kalian, apakah ada yang tersisa?” Mereka menjawab, “Semoga Allah memberimu kebaikan, kamu telah memenuhi kewajibanmu dengan sebaik-baiknya.” Abu al-‘Ash berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

 

Kemudian Abu al-‘Ash pergi ke Madinah di waktu Subuh dan menemui Nabi ๏ทบ. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin engkau memberiku perlindungan, dan hari ini aku datang untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.” Abu al-‘Ash bin al-Rabi' berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk kembali bersama Zainab.” Nabi ๏ทบ kemudian membawanya ke rumah Zainab dan mengetuk pintu. Beliau berkata, “Wahai Zainab, anak pamanmu datang hari ini meminta izin untuk kembali kepadamu, apakah engkau menerimanya?” Wajah Zainab memerah dan ia tersenyum.

- ๐—”๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ต:

Setahun setelah kejadian tersebut, Zainab meninggal dunia. Rasulullah menangisinya dengan sangat sedih, sampai-sampai orang-orang melihat Rasulullah mengusapnya dan berusaha menenangkannya.

 

Dia berkata kepada Rasulullah, "Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak lagi sanggup hidup di dunia ini tanpa Zainab."

 

Dan dia meninggal setahun setelah Zainab wafat.

 

Apakah kalian pernah melihat kesetiaan dan cinta seperti ini?

 

๐‘ฉ๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’Š๐’๐’…๐’‚๐’‰๐’��๐’‚ ๐’Œ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰ ๐’„๐’Š๐’๐’•๐’‚ ๐’Š๐’๐’Š!! ๐‘ฏ๐’‚๐’•๐’Š ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’…๐’Š ๐’Œ๐’‰๐’–๐’”๐’š๐’–๐’Œ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’•๐’†๐’”๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‚๐’Š๐’“ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚!! ๐‘บ๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’Š ๐’‘๐’†๐’๐’ˆ๐’‰๐’‚๐’“๐’ˆ๐’‚๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’“๐’‚๐’”๐’‚ ๐’‰๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’• ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’‚๐’š๐’‚๐’‰ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’–๐’๐’Š๐’‚ ๐’Š๐’๐’Š, ๐’”๐’–๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’•๐’Š๐’‚, ๐’…๐’‚๐’ ๐’Š๐’”๐’•๐’“๐’Š ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’‚๐’๐’†๐’‰๐’‚๐’‰.

Allah Maha Agung dan Maha Mengetahui.

 

http://saaid.org/gesah/477.htm

 

 

Comments

Popular Posts