PENGHALANG DARI KEBENARAN
Bismillahirrahmanirrahim
Mutiara dari kitab
"Penghalang dari Kebenaran" oleh Dr. Hamad bin Ibrahim Al-Othman.
Syekh al-Islam berkata: "Hati diciptakan mencintai
kebenaran, menginginkannya, dan mencarinya."
Ibnu Hazm berkata: "Nikmat Allah yang paling utama bagi
hamba adalah menjadikannya cinta pada keadilan dan kebenaran, serta
mengutamakannya."
Ibnu Sa’di dalam tafsirnya berkata: "Agama adalah agama
hikmah yang merupakan pengetahuan tentang yang benar, melaksanakan yang benar,
mengetahui kebenaran, dan melaksanakan kebenaran dalam segala hal."
Mu’adz bin Jabal berkata: "Sesungguhnya kebenaran
memiliki cahaya."
Penghalang dari Kebenaran:
1. Kebodohan: Ibnu Qayyim berkata: "Barangsiapa yang
tidak mengetahui sesuatu, ia akan memusuhinya, dan memusuhi
orang-orangnya."
2. Menganggap kebenaran itu rumit dan membingungkan: Syekh
Muhammad Al-Basyir Al-Ibrahimi berkata: "Sering kali kemudahan membawa
kesulitan, karena kemudahan ini membuat pikiran menjadi malas dan tangan
menjadi lumpuh."
3. Mengabaikan pencarian kebenaran: Syekh Shiddiq Hasan Khan
berkata: "Hanya orang yang memiliki lima sifat yang dapat mengetahui
kebenaran: keikhlasan, pemahaman, keadilan, keinginan kuat untuk mengetahui
kebenaran, dan semangat untuk menyerukannya."
4. Rasa takut: Seperti mukmin dari keluarga Firaun yang
menyembunyikan imannya, dan Heraclius yang mengetahui kebenaran dan hampir
memeluk Islam tetapi takut kepada kaumnya, sehingga memilih kekufuran.
5. Cinta akan kedudukan dan kekuasaan: Syekh al-Islam Ibnu
Taimiyah berkata: "Orang yang mencari kekuasaan, bahkan dengan cara yang
salah, akan puas dengan pujian meskipun tidak benar, dan marah dengan kritik
meskipun benar."
6. Taklid: Para salaf menyebut orang yang meniru tanpa
pemahaman sebagai “Imma’ah”. Ibnu Hazm berkata: "Orang yang meniru dengan
puas berarti menipu akalnya sendiri." Syekh al-Islam berkata: "Taklid
hanya akan menghasilkan kebodohan."
7. Kekaguman pada diri sendiri: Manusia secara alami
mencintai dirinya sendiri dan bangga padanya. Jika seseorang tidak bisa
mengalahkan dirinya sendiri, ia akan tersesat. Hakikat kerendahan hati adalah
tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya tanpa melawan dengan kesombongan.
8. Kesombongan: Abu Utsman An-Naisaburi berkata: "Tidak
ada yang meninggalkan sunnah kecuali karena kesombongan dalam dirinya."
Ibnu Jauzi berkata: "Orang yang sombong melihat dirinya lebih tinggi dari
orang lain, yang menyebabkan kegembiraan dan keangkuhan, yang sebenarnya adalah
tipu daya setan."
9. Hasad (dengki): Dikatakan: "Orang-orang yang setara
dalam setiap aspek saling membenci."
10. Fanatisme kelompok (hizbiyah):
11. Dosa: Dosa memiliki dampak besar pada hati, menyebabkan
kelemahan yang menghalangi dari kebenaran. Syekh al-Islam berkata:
"Seperti seseorang yang menutup matanya sehingga tidak bisa melihat
apa-apa meskipun tidak buta, begitu pula hati yang tertutup oleh dosa tidak
bisa melihat kebenaran."
12. Kelalaian dalam meminta petunjuk: Kecerdasan saja tidak
cukup untuk membawa kepada petunjuk dan kebenaran. Nabi ﷺ dalam doa malamnya berkata: "Ya Allah, Tuhan Jibril,
Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan
yang nyata, Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam apa yang
mereka perselisihkan. Tunjukilah aku dalam kebenaran yang diperselisihkan
dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau
kehendaki ke jalan yang lurus."
13. Tidak menyebarkan kebenaran: Abdullah bin Mubarak
berkata: "Barang siapa yang pelit dengan ilmu, akan diuji dengan tiga hal:
dia mati dan ilmunya hilang, dia lupa, atau dia mengikuti penguasa."
14. Kurangnya pemahaman: Wahb bin Munabbih berkata:
"Seperti pohon yang berbeda kualitas buahnya, demikian pula manusia
berbeda dalam kecerdasannya."
15. Kebiasaan dan adat istiadat: Seperti Bilqis, Ratu Saba’,
yang terhalang oleh apa yang disembah oleh kaumnya selain Allah. Nabi ﷺ bersabda: "Setiap anak dilahirkan
dalam keadaan fitrah, tetapi orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau
Majusi."
16. Menolak sebagian kebenaran dan meninggalkan sebagian
syariat: Mengikuti seluruh syariat adalah konsekuensi dari kesaksian bahwa
Muhammad adalah Rasul Allah.
17. Keterlibatan dalam hal-hal yang mubah secara berlebihan:
Imam Ahmad berkata: "Aku tidak suka mengurangi makanan karena ada orang
yang melakukannya sehingga mereka tidak mampu melaksanakan kewajiban."
18. Keadaan orang yang menyampaikan kebenaran: Nabi ﷺ bersabda: "Maafkanlah orang-orang
yang memiliki status terhormat atas kesalahan mereka."
19. Menggabungkan kebatilan dengan sebagian kebenaran: Ibnu
Qayyim berkata: "Syubhat adalah keraguan yang menghalangi hati dari
melihat kebenaran."
20. Bergaul dengan orang-orang yang sesat: Ibnu Rojab
berkata: "Manusia terpengaruh oleh lingkungan mereka."
21. Tidak mempertimbangkan pendapat lawan: Abu Nashr
As-Sijzi berkata: "Orang awam dan pemula seharusnya tidak mendengarkan
pendapat lawan karena bisa menyebabkan penyimpangan."
22. Banyaknya orang yang sesat: Kebenaran itu asing. Nabi ﷺ bersabda: "Islam datang dalam keadaan
asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing."
23. Nafsu yang menolak: Ibnu Qayyim berkata: "Pendapat
yang benar hanya muncul dengan keseimbangan mental yang baik."
24. Berpegang pada keyakinan sebelum dalil: Asy-Syatibi
berkata: "Orang yang sesat memprioritaskan hawa nafsu dan menggunakan
dalil sebagai pengikutnya."
25. Ketidaktahuan tentang kebatilan dan argumen mereka:
Hudzifah bin Al-Yaman berkata: "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya
tentang keburukan karena takut akan menimpaku."
26. Tidak memahami kebatilan sebagaimana adanya: Ibnu Rojab
berkata: "Sebagian ulama terdahulu berkata: Gambarkan sesuatu dalam
pikiranmu dan bandingkan dengan lawannya, maka kamu akan mengetahui kebenaran
dari kebatilan."
27. Mengikuti prinsip yang salah: Orang yang mengikuti
prinsip yang salah seperti menjadikan akal sebagai hakim, maka segala sesuatu
yang dibangun di atasnya adalah salah.
28. Kebatilan berasal dari orang yang dihormati: Ibnu Qayyim
berkata: "Cinta kepada sesuatu dapat membutakan dan membuat tuli dari
melihat kejelekan dan keburukannya."
29. Atribusi kebatilan kepada orang yang terhormat: Abdullah
bin Saba’ menisbatkan ajarannya kepada keluarga Nabi ﷺ padahal mereka berlepas diri darinya.
30. Kelemahan ahli kebenaran: Ibnu Qutaybah berkata:
"Kebatilan diperkuat dengan diamnya ahli kebenaran."
31. Cara penyampaian kebenaran: Allah berfirman: "Dan
janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang
terbaik."
32. Mencari kebenaran dari musuhnya:
33. Mengabaikan musyawarah: Ibnu Qayyim berkata:
"Keputusan yang tepat dihasilkan dari musyawarah dengan orang yang
ahli."
34 - Tipu Daya Ahli Kebatilan:
Barang siapa yang menipu, dia memiliki kemiripan dengan
orang Yahudi.
Tipu Daya Terpenting dan Terbesar Ahli Kebatilan dalam
Menyimpangkan Orang dari Kebenaran:
1. Mengutuk Balasan (Tanggapan): Salah satu cara mereka
adalah menempatkan balasan ini pada level omongan sesama dan mengabaikannya,
sehingga itu dianggap tidak penting dan tidak perlu disebarkan. Mereka
mengklaim bahwa buku-buku balasan ini memecah belah persatuan, memecah belah
kelompok, dan mengeraskan hati, serta tidak ada ilmu yang bisa didapatkan dari
sana.
2. Mengutuk Kebenaran dan Para Penganutnya.
3. Mengemas Kebatilan dalam Bentuk Kebenaran:
"Kata-kata yang salah tetapi dimaksudkan untuk kebenaran."
4. Memperbolehkan Berbohong: Berbohong adalah salah satu
sifat paling buruk dari orang munafik dan merupakan salah satu dosa besar.
Syariat hanya memperbolehkan berbohong dalam tiga situasi: dalam perang, dalam
percakapan antara suami dan istri, serta dalam mendamaikan orang yang
berselisih. Barang siapa yang memperbolehkan berbohong di luar ketiga situasi
ini, dia telah berdusta atas nama Allah dan mengatur teks syariat tanpa dalil
atau bukti.
5. Menganggap Lawan Kurang Pemahaman.
6. Menggunakan Istilah Umum: Ibnu Taimiyah berkata,
"Jika dilakukan penyelidikan dan penjelasan, rahasia akan terbongkar dan
malam akan jelas berbeda dari siang."
7. Bersandar pada Teks yang Dihapus dan Pendapat yang
Ditolak oleh Pemiliknya.
8. Menyembunyikan Kebenaran: Waki’ berkata, "Ahli ilmu
menulis apa yang menguntungkan mereka dan yang merugikan mereka, sementara ahli
hawa nafsu hanya menulis yang menguntungkan mereka."
9. Mengklaim Konsensus yang Tidak Ada.
Sebagai kesimpulan: Gabungan dari kebaikan adalah ilmu, keadilan, dan niat yang baik. Sedangkan gabungan dari keburukan adalah kebodohan, ketidakadilan, dan niat yang buruk
.https://al-maktaba.org/book/31617/52254

.jpeg)
Comments
Post a Comment