Tauhid Nama dan Sifat

Tauhid nama dan sifat berarti mengesakan Allah Ta'ala dengan nama-nama-Nya yang Dia sebutkan sendiri dan sifat-sifat-Nya yang Dia gambarkan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya yang mulia dan yang diberitakan oleh Rasul-Nya (saw) dalam sunnahnya yang suci. Prinsip dalam tauhid ini menjelaskan kepada hamba cara mengenal Tuhannya dan beradab dengannya dalam batas-batas yang Dia ridai untuk kedudukan-Nya. Keimanan kepada-Nya mengharuskan memperhatikan sepuluh aturan berikut:


**Pertama:** Nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta'ala hanya bersumber dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya karena itu adalah perkara gaib dan gaib hanya diketahui melalui wahyu. Allah Ta'ala berfirman: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm: 1-4).


**Kedua:** Menerima bahwa semua nama Allah Ta'ala adalah nama-nama yang baik dalam kesempurnaan, dan sifat-sifat-Nya sempurna dalam kesempurnaan tertinggi. Allah Ta'ala berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang paling baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu” (QS. Al-A’raf: 180). Rasulullah (saw) bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."


**Ketiga:** Wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah seperti yang datang dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya tanpa menyelewengkan, menyerupakan, menafikan, dengan menyerahkan bagaimana caranya kepada Allah. Menafsirkan kekayaan Allah Ta'ala dalam ayat: “Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Al-Hajj: 64) dengan kemampuan adalah penafsiran yang tidak diperbolehkan, demikian pula mengatakan bahwa kekayaan-Nya seperti kekayaan manusia yang terkaya adalah penyerupaan yang tidak diperbolehkan, dan mengatakan bahwa Allah kaya tanpa kekayaan adalah penafian yang tidak diperbolehkan. Penafsiran ini bertentangan dengan firman Allah Ta'ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11). Dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” menafikan adanya yang menyerupai Allah, dan dalam firman-Nya: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” menetapkan nama dan sifat Allah. Pemahaman yang benar terhadap ayat: “Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” mengharuskan kita menerima bahwa Allah kaya dengan kekayaan mutlak yang tidak seperti kekayaan makhluk-Nya yang terbatas dan membutuhkan-Nya.


**Keempat:** Tidak diperbolehkan membayangkan rupa Allah Ta'ala, karena membayangkan-Nya adalah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; manusia tidak dapat membayangkan sesuatu yang tidak pernah dilihatnya. Para ulama berkata: "Segala yang terlintas dalam pikiranmu, Allah berbeda dengan itu." Dalam hadits lemah: "Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan tentang Dzat Allah."


**Kelima:** Tidak diperbolehkan mengambil nama Allah Ta'ala dari sifat-Nya, namun diperbolehkan mengambil sifat-Nya dari nama-Nya. Allah Ta'ala berfirman: “Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas 'Arsy” (QS. Thaha: 5); tidak diperbolehkan kita mengambil dari sifat "bersemayam" nama "yang bersemayam". Namun dalam firman Allah Ta'ala: “Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Al-Hajj: 64) kita diperbolehkan menisbahkan sifat kaya kepada Allah karena sifat itu terkandung dalam nama "Yang Maha Kaya" dan karena nama-nama-Nya menunjukkan kesempurnaan-Nya.


**Keenam:** Tidak diperbolehkan membatasi nama-nama Allah pada sembilan puluh sembilan nama karena adanya dalil dari sunnah yang menyatakan bahwa ada nama-nama lain yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala. Rasulullah (saw) sering berdoa: "Aku memohon kepada-Mu ya Allah dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai diri-Mu sendiri dengannya atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu dari makhluk-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu..." Doa ini menunjukkan adanya nama-nama yang hanya diketahui oleh Allah sendiri, dan oleh karena itu hadits: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barang siapa yang menghafalnya akan masuk surga" ditafsirkan bahwa jumlah nama-nama tersebut disebutkan bukan untuk membatasi.


**Ketujuh:** Allah Ta'ala memiliki sifat-sifat dzatiyah dan sifat-sifat fi'liyah. Sifat-sifat dzatiyah adalah sifat yang melekat pada Dzat-Nya seperti keberkahan, kehidupan, dan ilmu. Sifat-sifat fi'liyah adalah sifat yang bergantung pada kehendak-Nya seperti bersemayam di atas 'Arsy, ridha, dan murka; Dia melakukannya kapan Dia kehendaki dan meninggalkannya kapan Dia kehendaki.


**Kedelapan:** Tidak diperbolehkan memberikan Allah sifat-sifat seperti makar, istihza', dan khida' secara terpisah karena mengandung kekurangan dari-Nya, tetapi hanya digunakan dalam konteks tertentu seperti dalam ayat: “Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. Ali Imran: 54). Dan firman-Nya: “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, 'Kami telah beriman', tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan mereka, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok'. Allah akan (membalas) olok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (QS. Al-Baqarah: 14-15). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka” (QS. An-Nisa: 142).


**Kesembilan:** Tidak diperbolehkan merinci sifat-sifat yang Allah nafikan dari Dzat-Nya karena hal itu mengandung kurangnya adab terhadap Allah, dan disebut sebagai sifat negatif karena mengandung kekurangan seperti menafikan anak dan tidur; Allah Ta'ala berfirman: “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS. Al-Ikhlas: 3) dan firman-Nya: “Dia tidak mengantuk dan tidak tidur” (QS. Al-Baqarah: 255). Misalnya, jika seseorang berkata kepada seorang raja: "Engkau bukanlah orang yang miskin, bukan lemah, dan bukan rendah", tentu saja sifat-sifat seperti ini tidak disambut dengan baik.


**Kesepuluh:** Jika kita menyebut Allah sebagai "pembuat" dan "tujuan" maka itu adalah hak-Nya karena dalam kenyataannya Dia adalah pembuat alam semesta dan tujuan ibadah serta harapan; meskipun tidak ada dalil langsung dalam kitab dan sunnah tentang hal itu. Oleh karena itu, para ulama menyebut apa yang menjadi hak Allah meskipun tidak ada nash sebagai "ikbar".


Referensi:

[1] QS. An-Najm: 2.

[2] QS. Al-A'raf: 180.

[3] HR. Muslim dalam Kitab Iman, Bab Larangan Sombong dan Penjelasannya, dari Ibnu Mas'ud ra., nomor hadits: 147.

[4] QS. Asy-Syura: 11.

[5] QS. Thaha: 5.

[6] QS. Al-Hajj: 64.

[7] HR. Hakim dalam Al-Mustadrak ala Shahihain, Kitab Iman dari Abu Hurairah ra., jilid/1, halaman/62.

[8] QS. Ali Imran: 54.

[9] QS. Al-Baqarah: 14.

[10] QS. An-Nisa: 142.

[11] QS. Al-Ikhlas: 3.

[12] QS. Al-Baqarah: 255.

===========

توحيد الأسماء والصفات


يعني توحيد الأسماء والصفات، إفراد الله تعالى بأسمائه التي سمى بها نفسه وصفاته التي وصف بها ذاته في كتابه الكريم والتي أخبر بها رسوله (صلى الله عليه وسلم) في سنته المطهرة. إن هذا الأصل في التوحيد ليبيّن للعبد سبيل التعرف على ربه والتأدب معه في الحدود التي ارتضاها سبحانه لمقامه. ويقتضي الإيمان به مراعاة القواعد العشر التالية:

أولها: لا تُستمد أسماء الله تعالى وصفاته إلا من كتاب الله وسنة رسوله لأنها غيب والغيب لا يُعلم إلاَّ من الوحي. قال الله تعالى: ﴿ وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى * وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى ﴾[1].

 

ثانيها: التسليم بأن جميع أسماء الله تعالى حسنى في منتهى الحسن، وبأن صفاته كاملة في منتهى الكمال. قال سبحانه وتعالى: ﴿ وَلِلَّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا [2]. وقال صلى الله عليه وسلم: "إن الله جميل يحب الجمال" [3].

 

ثالثها: يجب إثبات أسماء الله تعالى وصفاته كما جاءت في كتاب الله وسنة رسوله دون تحريف ولا تشبيه ولا نفي مع تفويض كيفيتها إلى الله. إن تفسير غنى الله سبحانه وتعالى في الآية: ﴿ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴾ بالقدرة هو تأويل لا يجوز، أما القول بأن غناه سبحانه وتعالى مثل غنى أغنى الناس فهو تشبيه لا يجوز، وأما الزعم بأن الله غني من غير غنى فهو نفي وتعطيل لا يجوز. إن هذه التآويل تعارض قول الله تعالى: ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [4]. ففي قوله:﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ﴾ نفي الشبيه عن الله، وفي قوله: ﴿ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴾ إثبات لأسماء الله تعالى وصفاته. إن الفهم الصحيح للآية: ﴿ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴾ يقتضى التسليمَ بأن الله غني غنى مطلقاً ليس كغنى خلقه الذي يتسم بالمحدودية والحاجة له سبحانه.

 

رابعها: لا يجوز تخيل صورة الله سبحانه وتعالى، لأن تخيلها تشبيه لله بخلقه؛ فالإنسان لا يمكن أن يتصور شيئاً لم يره. قال العلماء: "كل ما خطر على بالك فالله خلاف ذلك"، وفي الحديث الضعيف: "تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله".

 

خامسها: لا يجوز اشتقاق أسماء الله تعالى من صفاته، بينما يجوز اشتقاق صفاته تعالى من أسمائه. قال تعالى: ﴿ الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ﴾[5]؛ لا يجوز لنا هنا أن نشتق من صفة "الاستواء" اسم "المستوي". أما في قول الله تعالى: ﴿ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ [6] فيجوز لنا إضفاء صفة الغنى على الله لأنها جاءت متضمنة في اسم الغني ولأن أسماءه سبحانه وتعالى أتت دالة على كماله.

 

سادسها: لا يجوز حصر أسماء الله عز وجل في تسعةٍ وتسعين اسماً لوجود دليل من السنة نَصَّ على أن هناك أسماء أخرى استأثر الله تعالى بعلمها وحده دون غيره. لقد دأب رسول الله (صلى الله عليه وسلم) على القول في دعائه: "أسألك اللهم بكل اسم هو لك، سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك..." إن هذا الدعاء ليشير إلى وجود أسماء استأثر الله بعلمها وحده ولهذا يُحمل الحديث النبوي: "لله تسعة وتسعين اسماً، من أحصاها دخل الجنة"[7] على أن عدد هذه الأسماء جاء على سبيل الذكر لا الحصر.

 

سابعها: إن للهِ تعالى صفات ذاتية وأخرى فعلية. أما صفات الله الذاتية فهي الصفات اللازمة لذاته كصفة البركة والحياة والعلم.

 

وأما صفات الله الفعلية فهي صفات تابعة لمشيئته كصفة الاستواء على العرش وصفة الرضى وصفة الغضب، فهو يفعلها متى شاء ويدعها متى شاء.

 

ثامنها: لا يجوز أن يفرد الله تعالى بصفات كالمكر والاستهزاء والخداع لما فيها من تنقيص منه سبحانه بل يعمد إلى مقابلتها بأفعال المخلوقين. إنها لا تطلق على الله إلا في ما سيقت فيه من الآيات كقوله تعالى: ﴿ وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ﴾[8]. وقوله: ﴿ وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِؤُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴾[9]. وقوله: ﴿ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ [10].

 

تاسعها: لا يجوز التفصيل في الصفات التي نفاها الله عن ذاته لما يحمله ذلك من قلة أدب في حق الله عز وجل، ويسمى كل ما نفاه الله عن ذاته صفاتٍ سلبية لما فيها من نقص كنفي الولد والنوم؛ قال تعالى: ﴿ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴾[11]وقال سبحانه: ﴿ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ [12]. فمثلا إذا قال إنسان لملِك أنت لست فقيراً ولا ضعيفاً ولا ذليلاً ولو كنت ذلك لما صرت ملكاً. فلا شك أن مثل هذه الأوصاف لا تلاقى بالترحاب.

 

عاشرها: إذا أطلقنا على الله اسم "الصانع" و"المقصود" فإن ذلك يعد حقاً في ذاته سبحانه لأنه في حقيقة الأمر صانع للكون، ومقصود بالعبادة والرجاء؛ ولو لم يرد دليل مباشر في الكتاب والسنة على ذلك. لذا فقد سمى العلماء ما كان حقًا في ذات الله ولم يرد به نصٌّ إخباراً.



[1] سورة النجم - سورة 53 - آية 2.

[2] سورة الأعراف - سورة 7 - آية 180.

[3] أخرجه مسلم في الإيمان، باب تَحْرِيمِ الْكِبْرِ وَبَيَانِه، عن ابن مسعود رضي الله عنه، رقم الحديث:147 .

[4] سورة الشورى - سورة 42 - آية 11.

[5] سورة طه - سورة 20 - آية 5.

[6] سورة الحج - سورة 22 - آية 64.

[7] أخرجه الحاكم في المستدرك على الصحيحين، كتاب الإيمان عن أبي هريرة رضي الله عنه، ج/1،ص/62.

[8] سورة آل عمران - سورة 3 - آية 54.

[9] سورة البقرة - سورة 2 - آية …14

[10] سورة النساء - سورة 4 - آية 142

[11]سورة الإخلاص - سورة 112 – آية3.

[12] سورة البقرة - سورة 2 - آية 255.



رابط الموضوع: https://www.alukah.net/sharia/0/80642/%D8%AA%D9%88%D8%AD%D9%8A%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%A1-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%81%D8%A7%D8%AA/#ixzz8dSybrdzy

Comments

Popular Posts