Bai'at Aqabah Pertama
Al-Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan teks dan ketentuan baiat ini. Dari 'Ubadah bin al-Samit رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Baiatlah aku bahwa kalian tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak kalian, tidak akan membuat fitnah yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, dan tidak akan durhaka kepadaku dalam hal yang makruf. Barangsiapa di antara kalian yang menepati (janji) maka pahalanya ada di sisi Allah, dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal tersebut lalu dihukum di dunia, maka itu sebagai penebus dosanya, dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal tersebut lalu Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan kepada Allah, jika Dia menghendaki, Dia akan menghukumnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya." 'Ubadah berkata: "Maka kami berbaiat kepadanya atas hal itu."
Ketentuan dalam baiat ini adalah hal yang kemudian Rasulullah ﷺ gunakan untuk membaiat kaum wanita, sehingga dikenal sebagai Bai'atun Nisa. Rasulullah ﷺ mengutus Mush'ab bin Umair رضي الله عنه bersama mereka yang berbaiat, untuk mengajari mereka agama dan membacakan Al-Qur'an. Mush'ab kemudian dikenal di Madinah sebagai (Al-Muqri’).
Mush'ab tinggal di rumah As'ad bin Zurarah di Yathrib, mengajak orang-orang kepada Islam dan memimpin gerakan dakwah yang cemerlang. Misinya berhasil dengan sangat baik, hingga tidak ada satu rumah pun di antara kaum Anshar yang tidak memeluk Islam. Sebelum musim haji berikutnya di tahun ketiga belas, Mush'ab bin Umair kembali ke Mekah membawa kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ tentang Yathrib dan kesuburannya untuk Islam dan dakwahnya.
Dari baiat ini dan peristiwa sebelumnya, kita dapat menyimpulkan beberapa hikmah dan pelajaran penting, di antaranya:
**Kemenangan dari Madinah**
Kebijaksanaan Allah menentukan bahwa para pendukung pertama Islam berasal dari luar komunitas dan kaumnya, agar tidak ada yang mengira bahwa dakwah Rasulullah ﷺ adalah dakwah kesukuan. Selain itu, Allah telah mempersiapkan kehidupan dan lingkungan Madinah untuk menerima dan mendukung agama ini, karena Madinah mengalami konflik sengit antara Aus dan Khazraj, yang menguras kekuatan mereka. Mereka berharap ada dakwah baru yang dapat menyelesaikan perang dan masalah di antara mereka, serta menyatukan mereka di bawah naungan dakwah tersebut. Hal ini terlihat dari pernyataan enam orang tersebut: "Kami telah meninggalkan kaum kami dalam permusuhan dan kejahatan yang sangat, semoga Allah menyatukan mereka melalui engkau. Kami akan kembali kepada mereka, mengajak mereka kepada urusanmu, dan menawarkan kepada mereka apa yang telah kami terima dari agama ini. Jika Allah menyatukan mereka kepadamu, tidak ada orang yang lebih mulia daripada engkau."
Selain itu, adanya kaum Yahudi di Madinah membuat Aus dan Khazraj mengetahui tentang kenabian dan risalah Ilahi. Yahudi sering mengancam mereka dengan kedatangan seorang nabi yang mereka klaim akan mereka ikuti dan akan membantai mereka seperti kaum 'Ad dan Iram. Maka ketika dakwah Islam sampai kepada mereka, sebagian mereka berkata kepada yang lain: "Demi Allah, ini adalah nabi yang dijanjikan Yahudi kepada kalian, jangan sampai mereka mendahului kalian kepadanya." Keadaan ini membuat penduduk Madinah menaruh harapan kepada agama ini, semoga dengan dakwah ini, persatuan mereka terwujud dan sebab-sebab perpecahan hilang. Inilah salah satu hikmah Allah untuk Rasul-Nya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam "Zaadul Ma’ad", agar mempersiapkan hijrah ke Madinah yang akan menjadi pusat penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.
**Kesabaran Menuju Kejayaan**
Sebelas tahun perjuangan, dakwah, keletihan, dan kesabaran terus-menerus adalah harga dan awal dari kebangkitan Islam yang besar, yang dimulai di Madinah, menyebar ke seluruh dunia, mengalahkan kekuatan Romawi, menjatuhkan kebesaran Persia, dan meluluhkan sistem dan peradaban palsu. Semua itu bermula dari Bai'at Aqabah Pertama.
Allah dengan mudah dapat menegakkan masyarakat Islam pertama tanpa perjuangan dan kesulitan yang dialami oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, tetapi itulah sunnatullah dalam menguji hamba-Nya. Kesabaran menghadapi cobaan dan keteguhan pada kebenaran adalah jalan menuju kemenangan dan kejayaan. Tidak mungkin memisahkan yang benar-benar jujur dari yang palsu tanpa ujian. Allah berfirman: "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia akan memberi petunjuk kepada mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan kepada mereka" (Muhammad 4-6). Dia juga berfirman: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman dan mengetahui orang-orang yang berdusta" (Al-'Ankabut 2-3).
**Duta Islam yang Sukses**
Kebijaksanaan Nabi ﷺ terlihat dalam pemilihan Mush'ab bin Umair رضي الله عنه sebagai duta Islam dan da'i, begitu juga keutamaan dan ketinggian derajat Mush'ab. Nabi ﷺ memilihnya karena mengetahui kepribadiannya dan keadaan Madinah. Selain hafal Al-Qur'an, Mush'ab memiliki akhlak yang baik, bijaksana, tenang, lembut, iman yang kuat, dan semangat yang besar untuk agamanya. Ini adalah kualitas da'i yang sukses. Dalam beberapa bulan saja, dia berhasil menyebarkan Islam di rumah-rumah Madinah dan mengajak para pemimpin seperti Sa'ad bin Mu'adh dan Usayd bin Hudhayr untuk memeluk Islam, yang dengan keislaman mereka banyak orang dari kaumnya ikut memeluk Islam.
Mush'ab رضي الله عنه mampu mengatasi tantangan yang selalu dihadapi setiap da'i, yang ingin mengubah keyakinan yang telah lama dianut oleh masyarakat menjadi sistem dan syariat baru yang lebih tinggi dan mencakup masa kini dan masa depan mereka.
Mush'ab رضي الله عنه merasa di belakangnya ada seorang nabi yang teraniaya, agama yang bertentangan dengan tradisi dan kebiasaan yang ada, dan dia tidak memiliki sarana yang dapat menarik orang masuk ke dalam agamanya selain harta agama, ketakwaan, dan hikmah yang dia dapatkan dan pelajari dari Rasulullah ﷺ, serta keikhlasannya kepada Allah yang membuatnya rela mengorbankan harta dan status sosial demi agama dan dakwahnya. Mush'ab juga memiliki Al-Qur'an yang menjadi penerang jalannya, dan dia memilih ayat-ayat yang dapat membuka hati dan pikiran orang-orang.
Mush'ab رضي الله عنه adalah pemuda yang paling mewah dan tampan di Mekah, tetapi setelah masuk Islam, dia meninggalkan kemewahan dan kenyamanan itu, dan melangkah di jalan dakwah Islam di belakang Rasulullah ﷺ, menanggung segala kesulitan dan menganggapnya sebagai kenikmatan, hingga dia syahid dalam Perang Uhud. Ketika mereka hendak mengkafaninya, mereka hanya memiliki satu kain yang jika menutupi kepalanya, maka kakinya terbuka, dan jika menutupi kakinya, maka kepalanya terbuka.
Mush'ab رضي الله عنه kembali ke Mekah sebelum musim haji di tahun ketiga belas kenabian, membawa gambaran lengkap tentang kondisi umat Islam di Yathrib, kemampuan dan potensi yang ada di sana, bagaimana Islam telah menyebar di seluruh suku Aus dan Khazraj, dan bahwa mereka siap untuk baiat besar yang mampu melindungi Rasulullah ﷺ dan membela Islam. Rasulullah ﷺ akan melihat apa yang membuat hatinya gembira dan dadanya lapang.
Demikianlah, Bai'at Aqabah Pertama menjadi langkah awal untuk baiat kedua yang lebih besar dan peristiwa penting yang akan mengubah jalannya sejarah, sebagai tanda datangnya beriringan kebaikan, petunjuk, dan cahaya ke Mekah.
sumber:
https://www.islamweb.net/ar/article/152552/%D8%A8%D9%8A%D8%B9%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%82%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%88%D9%84%D9%89

.jpeg)
Comments
Post a Comment